Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Belajar dari Jepang, BPBD Jatim Dorong Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas

Bihan Mokodompit • Selasa, 10 Februari 2026 | 09:59 WIB
Ilustrasi mitigasi bencana berbasis teknologi.
Ilustrasi mitigasi bencana berbasis teknologi.

RADARTUBAN - Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas menjadi fokus utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur atau BPBD Jatim setelah mengikuti short course kebencanaan di Jepang.

Pembelajaran kebencanaan ini digelar melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Kementerian Ekonomi, Perindustrian dan Perdagangan Jepang atau METI serta Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnership (AOTS).

BPBD Jatim mempelajari berbagai pendekatan mutakhir dalam penguatan mitigasi bencana, khususnya pemanfaatan teknologi kebencanaan Jepang yang selama ini terbukti efektif menekan risiko korban dan kerugian.

Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda menjelaskan bahwa Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas menjadi kebutuhan mendesak bagi wilayah rawan bencana seperti Jawa Timur.

Menurutnya, Jepang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola risiko bencana dengan pendekatan berbasis data, teknologi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Teknologi Kebencanaan Jepang Jadi Rujukan

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai sistem mitigasi dan informasi bencana, manajemen krisis, hingga pemanfaatan teknologi kebencanaan Jepang berbasis penginderaan cerdas.

Sejumlah teknologi diperkenalkan oleh dunia usaha Jepang yang selama ini terlibat langsung dalam penanggulangan bencana.

Teknologi tersebut antara lain drone VTOL untuk pemetaan wilayah terdampak, alat pengukur curah hujan, seismometer, alat pemantau pergerakan tanah, serta teknologi pemadatan tanah untuk mencegah longsor.

BPBD Jatim menilai teknologi kebencanaan Jepang tersebut relevan diterapkan di wilayah dengan potensi bencana hidrometeorologi dan geologi.

Pemanfaatan teknologi dinilai mampu mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan akurasi informasi di lapangan.

Paradigma Mitigasi Perlu Diubah

Akademisi kebencanaan Universitas Kyoto, Prof Dr Haruo Hayashi, PhD, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana.

Dia menegaskan bahwa fokus penanganan tidak lagi bertumpu pada fase tanggap darurat semata.

“Anggaran 1 dolar yang dikeluarkan saat pra bencana itu setara dengan 7 dolar saat tanggap darurat,” tegas Prof Haruo Hayashi.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana sejak dini jauh lebih efisien dan berdampak bagi keselamatan masyarakat.

Dalam konteks Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas, pendekatan pra bencana dinilai mampu meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Mitigasi Struktural dan Non-Struktural

Prof Haruo Hayashi menjelaskan bahwa upaya mitigasi bencana terbagi menjadi mitigasi struktural dan non-struktural.

Mitigasi struktural mencakup pembangunan fisik dan infrastruktur kebencanaan yang tahan terhadap ancaman bencana.

Sementara itu, mitigasi non-struktural berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan kebencanaan.

BPBD Jatim menilai kedua pendekatan tersebut harus berjalan beriringan agar Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas dapat berjalan optimal.
Penguatan literasi bencana masyarakat dinilai sama pentingnya dengan investasi teknologi.

Studi Lapangan dan Pameran Teknologi

Selain menerima materi di kelas, peserta juga mengunjungi pameran teknologi kebencanaan di Minato Mirai Expo, Yokohama, Prefektur Kanagawa.

Berbagai inovasi ditampilkan, mulai dari rumah tahan gempa, kendaraan komunikasi berinternet, simulator gempa mobile, hingga alat penjernih air.

Peserta juga melakukan studi banding ke BPBD Prefektur Saitama dan fasilitas pengolahan air di Kota Misato.

Kunjungan ke pusat edukasi bencana Sona Area Tokyo memberikan gambaran nyata tentang kesiapsiagaan masyarakat Jepang.

Harapan Penerapan di Jawa Timur

Direktur Pelatihan AOTS Jepang, Karako Takemoto, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta asal Jawa Timur.

Ia berharap ilmu dan pengalaman terkait teknologi kebencanaan Jepang dapat diterapkan sesuai karakteristik daerah masing-masing.

Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda menyatakan bahwa banyak praktik baik dari Jepang yang berpotensi direplikasi.

“Kami berharap pelatihan singkat seperti ini bisa berlanjut secara rutin dan berkelanjutan atau dengan tema yang lain, seperti penguatan evakuasi bencana atau lainnya,” tegas Andhika.

BPBD Jatim menegaskan komitmennya untuk mendorong Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Cerdas sebagai bagian dari perlindungan jangka panjang bagi masyarakat Jawa Timur. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#mitigasi #bencana #Jawa Timur #bpbd jatim