RADARTUBAN - Liga Saudi makin kompetitif dalam dua musim terakhir, tetapi dinamika di balik lapangan menunjukkan ada persoalan yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Kehadiran nama besar seperti Cristiano Ronaldo memang mengangkat sorotan global terhadap Saudi Pro League.
Namun kompetisi tidak lagi hanya tentang satu bintang.
Persaingan top skor musim ini menjadi bukti bahwa peta kekuatan berubah.
Ronaldo sudah mengoleksi 18 gol dari 19 pertandingan bersama Al Nassr.
Catatan itu impresif untuk pemain berusia 41 tahun. Akan tetapi, ia bukan pemuncak daftar pencetak gol di Liga Saudi.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Akhirnya Buka Suara soal Isu Mogok Bermain di Al Nassr Usai Absen Lawan Al Riyadh
Persaingan Tajam di Papan Atas
Predikat top skor sementara di Liga Saudi dipegang oleh Ivan Toney.
Penyerang asal Inggris itu mencetak 20 gol dari 20 laga bersama Al Ahli.
Lonjakan performanya terjadi setelah pergantian tahun.
Sejak awal 2026, Toney mencetak 14 gol hanya dalam 10 pertandingan di Liga Saudi.
Produktivitas itu melampaui Ronaldo dalam periode yang sama.
Ronaldo sendiri hanya mencetak lima gol sepanjang 2026.
Selain Toney, nama Julián Quiñones juga patut diperhitungkan.
Penyerang Meksiko tersebut sudah mengoleksi 18 gol bersama Al Qadsiah di Liga Saudi musim ini.
Persaingan ini menunjukkan bahwa kompetisi tidak lagi bertumpu pada satu figur saja.
Liga Saudi kini menghadirkan kompetisi yang lebih merata di papan atas.
Gaji Fantastis dan Pertanyaan Tata Kelola
Di sisi lain, dinamika internal klub memunculkan pertanyaan baru.
Ronaldo sempat absen dalam tiga pertandingan beruntun Al Nassr.
Laporan menyebut absennya terkait ketidakpuasan terhadap ambisi transfer klub.
Ada pula kabar mengenai tunggakan gaji staf yang kemudian diselesaikan.
Situasi ini memunculkan diskursus tentang tata kelola profesional di Liga Saudi.
Kompetisi yang berkembang pesat membutuhkan fondasi manajemen yang kuat.
Investasi besar pada pemain bintang harus diimbangi transparansi dan stabilitas internal.
Tanpa itu, Liga Saudi berisiko menghadapi krisis yang tidak terlihat di papan skor.
Pembelaan dari Timnas Portugal
Di tengah perdebatan tersebut, pelatih Portugal Roberto Martínez memberikan pembelaan terhadap Ronaldo.
Ia menegaskan kontribusi pemain senior itu masih relevan.
“Sangat mudah, karena standarnya yang tinggi, ekspektasinya terhadap cara kerja tim, dan komitmennya pada permainan. Dia benar-benar contoh bagaimana seharusnya Anda mewakili Portugal dan tim nasional.”
“Sekarang dia sudah beradaptasi, tentu saja, setelah 21 tahun bersama tim nasional—dia telah menyesuaikan diri. Dia seorang pencetak gol dan pemain penting bagi kami. Yang penting bagi saya adalah sosoknya saat ini. Sebagai pelatih tim nasional, pemain yang mencetak 25 gol dalam 30 pertandingan internasional terakhir... dia bermain bukan karena apa yang telah dia lakukan di masa lalu, melainkan karena apa yang dia lakukan sekarang.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa performa tetap menjadi tolok ukur utama.
Kompetitif, Tapi Harus Berkelanjutan
Liga Saudi memang menunjukkan peningkatan kualitas kompetisi.
Persaingan antara Ronaldo, Toney, dan Quiñones membuktikan daya tarik Liga Saudi semakin luas.
Namun kompetitif saja tidak cukup.
Keberlanjutan finansial dan tata kelola menjadi faktor krusial.
Liga Saudi harus memastikan stabilitas internal setiap klub.
Jika tidak, krisis bisa muncul di tengah euforia gol dan rekor.
Persaingan ketat di Liga Saudi adalah modal besar. Tetapi fondasi yang kokoh tetap menjadi kunci agar kompetisi ini tidak hanya bersinar sesaat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni