RADARTUBAN - Gaya bicara atau logat seseorang umumnya terbentuk secara alami melalui pengaruh lingkungan sosial, latar belakang budaya, serta kebiasaan yang dipupuk sejak masa kanak-kanak.
Namun, terdapat sebuah anomali medis yang sangat unik di mana identitas vokal seseorang dapat berubah secara drastis bukan karena berpindah tempat tinggal, tetapi sebagai dampak dari serangan stroke.
Peristiwa langka tersebut di alami seorang wanita berumur 54 tahun yang menjalani perawatan medis di RSUD Dr. Moewardi yang berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah.
Berdasarkan riwayat kesehatannya, wanita tersebut sempat mengalami serangan stroke beberapa tahun silam yang mengakibatkan hambatan serius pada mobilitas dan kemampuan komunikasinya.
Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai gejala fisik yang tidak biasa seperti rasa kebas atau kesemutan serta penurunan kekuatan otot pada bagian tubuh sebelah kanan.
Namun, fenomena yang paling mengagetkan tim medis adalah terjadinya perubahan aksen bicara yang sangat kontras dari biasanya.
Wanita tersebut memiliki latar belakang kehidupan yang murni berada dalam lingkungan budaya Jawa dan tidak pernah keluar dari lingkaran sosial tersebut sepanjang usianya.
Saat pertama kali terkena stroke, wanita tersebut masih berkomunikasi dengan logat Jawa yang sangat kental.
Akan tetapi, saat memeriksakan diri ke Klinik Neurologi di Surakarta, cara bicaranya secara mengejutkan berubah menjadi sangat mirip dengan logat Madura.
Keunikan tersebut menjadi misteri karena pasien sama sekali tidak memiliki garis keturunan Madura maupun pengalaman menetap di daerah tersebut.
Melalui penelusuran medis lebih lanjut, pasien menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengalami benturan keras di kepala ataupun menjalani tindakan pembedahan saraf.
Satu-satunya faktor risiko kesehatan yang ia miliki adalah riwayat tekanan darah tinggi yang memicu terjadinya stroke.
Untuk memecahkan teka-teki unik tersebut, para pakar saraf melakukan pemindaian otak menggunakan teknologi MRI.
Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya kerusakan pada bagian lobus frontal di kedua sisi otak.
Bagian ini memiliki peran krusial dalam mengatur mekanisme bicara, daya ingat, serta fungsi motorik saat seseorang berkomunikasi.
Dari temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa pasien tengah mengidap sebuah gangguan medis yang sangat jarang ditemui di dunia, yaitu Sindrom Aksen Asing atau Foreign Accent Syndrome (FAS).
Kondisi ini menyebabkan pola bicara seseorang berubah secara mendadak sehingga terdengar seolah-olah mereka menggunakan dialek dari wilayah atau negara lain yang sebenarnya tidak mereka kenal secara mendalam.
Perubahan irama, penekanan kata, serta pelafalan yang baru ini sering kali memberikan kesan bahwa si penderita sedang meniru aksen asing, padahal hal itu terjadi akibat gangguan fungsi otak.
Kejadian yang dialami oleh pasien di Surakarta ini menambah deretan kasus serupa yang pernah terjadi secara global.
Salah satu contoh lainnya ditemukan di Amerika Serikat pada seorang wanita berusia 34 tahun yang memiliki riwayat skizofrenia.
Wanita yang tumbuh besar di Amerika tersebut secara perlahan mulai berbicara dengan aksen Inggris yang sangat autentik, meskipun tidak memiliki kaitan keluarga maupun pengalaman tinggal di Britania Raya.
Hingga tahun 2016, catatan medis di seluruh dunia menunjukkan bahwa hanya terdapat sekitar seratus laporan mengenai sindrom serupa, yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu kondisi medis paling langka di bidang neurologi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama