RADARTUBAN - Peristiwa meninggalnya seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dengan inisial NS di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, yang diduga menjadi korban tindakan kekerasan oleh ibu tirinya, telah menimbulkan keprihatinan yang mendalam di masyarakat.
Kasus Kekerasan Anak Jadi Sorotan Publik
Saat pihak kepolisian sedang menjalani proses penyelidikan, praktisi kesehatan anak memberikan perhatian khusus pada bagaimana dampak penganiayaan tersebut memengaruhi aspek pertumbuhan serta kesehatan jiwa sang anak.
Seorang pakar di bidang tumbuh kembang dan pediatri sosial, dr. Bernie Endyarni Medise, menjelaskan terkait dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak yang dapat memicu dampak kesehatan yang sangat nyata bagi korbannya.
Bernie memaparkan bahwa secara umum terdapat empat kategori utama kekerasan, yaitu penganiayaan fisik, pelecehan seksual, kekerasan secara emosional, serta tindakan penelantaran.
Selain itu, dalam beberapa klasifikasi, praktik perdagangan anak juga dimasukkan sebagai salah satu bentuk kejahatan terhadap anak.
Baca Juga: Hakim Pengadilan Negeri Tuban Vonis Bebas Terdakwa Kasus Kekerasan Anak karena Beralasan Mabuk
Dugaan Kekerasan Fisik dan Dampak Fatal
Mencermati situasi yang terjadi di Sukabumi, dr. Bernie berpendapat bahwa dugaan kuat mengarah pada adanya tindakan kekerasan fisik yang kemungkinan besar juga dibarengi dengan tekanan emosional.
Bernie menegaskan bahwa tingkat keparahan penganiayaan fisik pada anak dapat memicu konsekuensi yang sangat fatal.
Tergantung pada seberapa berat tindakan yang dilakukan, dampaknya bisa bervariasi mulai dari keharusan menjalani perawatan medis di rumah sakit, mengalami kecacatan permanen, hingga berujung pada hilangnya nyawa.
Temuan Medis dan Proses Autopsi
Terkait pemeriksaan medis pada kasus tersebut, tim penyidik kepolisian telah menemukan sejumlah bukti fisik berupa luka lecet, luka bakar kategori derajat 2A, serta bekas lebam yang menjadi indikasi adanya benturan benda tumpul.
Sementara itu, mengenai penyebab pasti kematian korban, saat ini masih dalam proses pendalaman lebih lanjut melalui hasil autopsi.
Trauma Psikologis Jangka Panjang pada Anak
Selain luka yang tampak secara kasat mata, dr. Bernie memberikan penekanan bahwa segala jenis kekerasan, baik yang menyasar fisik maupun psikis, dipastikan akan menyisakan dampak negatif dalam jangka waktu yang lama.
Anak-anak yang menjadi korban kekerasan biasanya menunjukkan berbagai indikasi trauma, seperti perasaan takut yang luar biasa, sering mengalami mimpi buruk, gangguan tidur di malam hari, hingga munculnya ketakutan terhadap sosok atau lokasi tertentu.
Beliau juga menjelaskan bahwa dampak trauma tersebut akan terus membekas, terlebih pada korban yang sudah menginjak usia remaja seperti dalam kasus ini.
Selama seseorang masih berada dalam fase usia anak-anak, pengaruh buruk tersebut berisiko terus terbawa hingga mereka dewasa.
Pentingnya Pendampingan dan Pemulihan Mental
Maka dari itu, penanganan trauma harus dilakukan menggunakan metode yang spesifik berdasarkan kelompok usia korban.
Bagi anak-anak yang lebih muda, peran anggota keluarga lain atau pengasuh baru sangat krusial untuk mengambil alih fungsi perlindungan guna memberikan kembali rasa aman serta kenyamanan.
Dalam kondisi tertentu, intervensi dari tenaga medis dan bantuan psikolog profesional sangat diperlukan agar trauma yang dialami tidak menetap secara permanen.
Hal yang paling menjadi kekhawatiran adalah potensi terciptanya rantai kekerasan yang berulang di masa depan. dr. Bernie memperingatkan bahwa anak-anak yang pernah mengalami penganiayaan memiliki kecenderungan untuk tumbuh menjadi pelaku kekerasan saat mereka dewasa nanti.
Hal inilah yang mendasari pentingnya pemulihan kesehatan mental bagi korban sejak dini agar mereka tidak mengulangi pola perilaku yang sama di kemudian hari. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni