RADARTUBAN – Dunia seni lukis tak lagi dipandang sebelah mata di tangan Erika Richardo.
Konten kreator sekaligus art creator kenamaan tanah air ini membuktikan bahwa hobi dan imajinasi jika ditekuni dengan gigih bisa membuahkan dampak sosial yang nyata.
Tak tanggung-tanggung, melalui gerakan "Rumah Lukis", Erika sukses menginisiasi pembangunan tiga sekolah di wilayah terpencil Indonesia.
Manifestasi dan Kepercayaan Diri Jadi Fondasi
Dalam obrolan hangat di kanal YouTube Suara Berkelas, gadis yang dikenal dengan level kepercayaan diri tinggi ini blak-blakan soal perjalanannya.
Erika menyebut, rahasia kesuksesannya bukan sekadar keberuntungan, melainkan kekuatan manifestasi dan rasa penasaran yang tak pernah padam.
"Manifesting itu real banget. Ketika kamu berpikir buruk tentang diri kamu, itu juga bisa berdampak buruk buat diri kamu. You will become what you think about," cetus Erika dalam sesi podcast tersebut.
Baca Juga: Robert Santari, Perupa Kenamaan Tuban, 29 Tahun Menjadi Seniman Lukis Bertemakan Pohon Siwalan
Tiga Tahun Ditolak, Akhirnya Lukis Pesawat
Perjalanan Erika meraih mimpi tidaklah instan. Salah satu pencapaian ikoniknya, yakni melukis di badan pesawat, ternyata menyimpan cerita penolakan yang panjang.
Ia mengaku butuh waktu tiga tahun untuk meyakinkan pihak maskapai agar memberikan izin menjadikannya kanvas raksasa di angkasa.
"Fun fact buat lukis di pesawat itu butuh aku 3 tahun untuk convince maskapainya. Tahun pertama dan kedua mereka bilang nggak bisa. Tapi di saat ditolak, aku tetap berkarya. Akhirnya tahun ketiga, justru mereka yang datang ke aku," kenangnya.
Pelukis yang pernah menjual karya pertamanya seharga Rp 1 juta saat masih duduk di bangku SMP itu membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci.
Dari Storytelling ke Sekolah di Sumba
Selain prestasi pribadi, Erika juga menaruh perhatian besar pada sektor pendidikan. Melalui kampanye yang ia bangun lewat storytelling di media sosial, ia berhasil menggerakkan hati ribuan pengikutnya.
Hebatnya, dana sebesar Rp 1 miliar berhasil terkumpul hanya dalam waktu lima hari untuk membangun sekolah di Sumba dan Lombok.
"Aku pengin nunjukin kalau jadi anak muda itu bisa ke mana-mana. Kita bisa eksplorasi lebih jauh. Jangan sampai kalau lagi gagal atau ditolak, kalian berhenti di sana," pesannya menyemangati generasi muda.
Seni, Ekspresi, dan Pentingnya Slow Down
Gadis yang hobi melakukan journaling ini juga menekankan pentingnya momen "ngerem" atau slow down di tengah hiruk-pikuk karier.
Menurutnya, dengan sesekali melambat, seseorang bisa lebih peka terhadap kondisi sekitar, mulai dari keluarga hingga tim kerja.
Bagi Erika, seni bukan sekadar coretan warna, melainkan media ekspresi diri yang paling jujur.
"Seni itu ada di mana-mana. Dengan kita aware dengan seni, kita jadi lebih bisa mengapresiasi hidup dari sebelumnya," pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni