RADARTUBAN- Pemerintah Arab Saudi memproduksi kiswah, kain penutup Ka'bah, menggunakan bahan premium seperti sutra hitam, emas, dan perak di kompleks khusus Majma' al-Malik Abdul Aziz di Makkah.
Kiswah ini tidak hanya berfungsi melindungi bangunan suci umat Islam, tetapi juga dihiasi sulaman ayat-ayat Al-Qur'an dengan khat tsulutsiy yang indah.
Bahan Premium dari Berbagai Negara
Kiswah terdiri dari sekitar 760 kg sutra Italia, 120 kg emas dari Jerman, dan 100 kg perak, dengan total berat mencapai 980 kg.
Kain hitam setinggi 14 meter ini dibagi menjadi 47 panel dengan lebar sekitar 98 cm yang kemudian dijahit menjadi satu kesatuan untuk menutupi seluruh dinding Ka'bah.
Emas dan perak digunakan untuk menyulam berbagai tulisan kaligrafi seperti "La ilaha illallah", "Muhammad Rasulullah", QS Al-Fatihah, serta ayat-ayat Al-Qur'an lainnya yang menghiasi bagian atas dan pinggir kain.
Proses Produksi Berbulan-bulan
Proses pembuatan kiswah dimulai dari pewarnaan sutra alami. Setelah itu dilanjutkan dengan penenunan otomatis untuk menghasilkan kain dasar.
Tahap berikutnya adalah pencetakan pola kaligrafi, proses bordir menggunakan benang emas dan perak, hingga penjahitan panel-panel kain menjadi satu kesatuan.
Dikerjakan Ratusan Pengrajin
Lebih dari 220 seniman dan teknisi Arab Saudi terlibat dalam pembuatan kiswah. Seluruh proses produksi biasanya memakan waktu sekitar 8 hingga 10 bulan.
Sebelum dipasang, kain juga melalui uji laboratorium untuk memastikan ketahanannya terhadap panas dan kondisi cuaca di Makkah.
Biaya produksi kiswah mencapai sekitar SAR 25 juta atau sekitar Rp100 miliar per tahun yang sepenuhnya ditanggung oleh Kerajaan Arab Saudi.
Tradisi Penggantian Kiswah
Kiswah baru dipasang setiap 1 Muharram, menggantikan tradisi sebelumnya yang dilakukan pada hari Arafah. Perubahan waktu ini dilakukan atas perintah Raja Salman.
Pada 2026, prosesi penggantian kiswah tetap menjadi momen sakral yang disaksikan para jemaah di Masjidil Haram.
Kain kiswah yang lama biasanya disimpan atau didistribusikan dalam bentuk potongan kecil sebagai simbol berkah bagi umat Islam di berbagai negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni