Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ekonom UGM Ingatkan Risiko Inflasi Jika Harga Pertalite Naik Saat Harga Minyak Dunia Belum Tembus 100 USD

M Robit Bilhaq • Sabtu, 7 Maret 2026 | 19:10 WIB

ilustrasi pengisian BBM
ilustrasi pengisian BBM

RADARTUBAN - Pihak pemerintah mendapatkan himbauan agar senantiasa waspada dan berhati-hati dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi saat harga minyak mentah internasional sedang bergejolak.

Risiko Besar Jika Harga BBM Dinaikkan Terburu-buru

Keputusan untuk mengerek harga BBM tipe Pertalite serta solar dianggap memiliki risiko yang sangat masif bagi stabilitas ekonomi domestik apabila langkah tersebut diambil secara terburu-buru.

Fahmy Radhi, seorang pakar Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, memberikan penilaian bahwa sebaiknya pemerintah tetap menahan harga BBM subsidi selama harga minyak mentah di pasar global belum melewati angka 100 USD per barel.

Baca Juga: BPH Migas Pangkas Kuota BBM Subsidi 2026, Pertalite Turun 6,28 Persen dan Solar Dikurangi 1,32 Persen

Pertalite dan Solar Ditentukan Pemerintah

Menurut pandangan Fahmy, Pertalite dan solar adalah jenis bahan bakar yang harga jualnya ditentukan langsung oleh otoritas pemerintah melalui skema subsidi.

Mengingat volume penggunaan Pertalite yang sangat mendominasi di tengah masyarakat, setiap kebijakan kenaikan harga dipastikan akan memberikan efek domino yang luas bagi tatanan ekonomi.

Kenaikan Harga Dinilai Berisiko Secara Politik dan Sosial

Fahmy menyampaikan bahwa untuk kategori BBM subsidi yang harganya diatur pemerintah, kemungkinan besar tidak akan serta-merta mengalami kenaikan dalam waktu dekat.

Hal ini dikarenakan langkah menaikkan harga Pertalite sangatlah berisiko bagi pemerintah mengingat mayoritas penggunanya adalah masyarakat luas.

Potensi Lonjakan Inflasi

Selain itu, Fahmy juga menjelaskan bahwa lonjakan harga BBM bersubsidi memiliki potensi besar untuk memicu tingkat inflasi yang jauh lebih tinggi.

Situasi semacam itu dikhawatirkan dapat menggerus kekuatan daya beli masyarakat serta memberikan dampak buruk pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Batas Aman Harga Minyak Dunia

Oleh karena itu, Fahmy memberikan rekomendasi agar pemerintah tetap bersabar dan tidak menaikkan harga solar maupun Pertalite selama patokan harga minyak dunia masih berada di bawah level 100 USD per barel.

Dirinya menegaskan kembali bahwa apabila harga minyak internasional belum menyentuh angka 100 USD per barel, maka langkah terbaik bagi pemerintah adalah tidak menaikkan harga kedua jenis bahan bakar tersebut.

Jika Tembus 100 USD, Pemerintah Sulit Menghindar

Apabila harga minyak mentah di pasar dunia ternyata melambung melampaui batas psikologis tersebut, maka pemerintah diprediksi tidak akan memiliki banyak opsi lain.

Tanggung jawab anggaran negara dipastikan akan menjadi sangat terbebani apabila harga BBM subsidi dipaksakan tetap bertahan pada angka saat ini.

Jika harga minyak sudah menembus level 100 USD ke atas, maka tidak ada jalan lain bagi pemerintah selain melakukan penyesuaian harga demi menyelamatkan postur anggaran.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok dan Distribusi BBM Aman dan Lancar di Wilayah Jatimbalinus

Ketahanan APBN Jadi Pertimbangan

Fahmy memberikan proyeksi bahwa instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diyakini masih memiliki ketahanan untuk membiayai subsidi energi selama harga minyak belum menembus angka tersebut.

Akan tetapi, jika tren kenaikan harga terus berlanjut hingga melampaui 100 USD per barel, maka tekanan terhadap kondisi fiskal negara akan menjadi jauh lebih hebat.

Dalam analisanya, APBN diprediksi masih sanggup menanggung beban meskipun harga Pertalite tidak dinaikkan saat ini.

Namun jika sudah melampaui batas 100 USD per barel, beban tersebut akan menjadi sangat berat dan berisiko membuat kondisi APBN mengalami kegagalan atau kolaps.

Harga Minyak Dunia Menguat

Berdasarkan laporan terkini, pada hari Kamis kemarin harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat berakhir menguat sebesar 6,35 USD atau sekitar 8,51 persen ke posisi 81,01 USD.

Pencapaian angka tersebut merupakan yang paling tinggi yang pernah tercatat sejak periode Juli pada tahun 2024 yang lalu.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent ditutup dengan kenaikan sebesar 4,01 USD atau 4,93 persen menjadi 85,41 USD per barel, yang menandai penguatan selama lima hari berturut-turut.

Koreksi Harga di Akhir Pekan

Meski begitu, pada hari Jumat terpantau adanya sedikit penurunan harga di mana kontrak berjangka minyak Brent merosot 95 sen atau 1,1 persen menjadi 84,46 USD per barel.

Minyak WTI juga tercatat mengalami penyusutan harga sebesar 1,08 USD atau 1,3 persen ke posisi 79,93 USD pada pantauan pagi hari tadi.

Kenaikan Pekanan Tertinggi Sejak 2022

Meski mengalami koreksi harian, harga Brent tercatat sudah melambung hingga 16,4 persen sepanjang pekan ini, sementara WTI mengalami kenaikan pesat sebesar 19,2 persen.

Tren kenaikan mingguan ini menjadi yang paling signifikan sejak momen invasi militer skala penuh yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina pada awal tahun 2022 silam. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#harga minyak dunia #bbm subsidi #harga minyak mentah #pertalite #Bahan Bakar minyak