Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketergantungan Impor Susu Melonjak Drastis! Dulu Hanya 40 Persen, Kini Tembus Angka 81 Persen

M Robit Bilhaq • Sabtu, 11 April 2026 | 11:56 WIB
Ilustrasi Sapi Perah. (Radar Bromo)
Ilustrasi Sapi Perah. (Radar Bromo)

RADARTUBAN - Badan Pangan Nasional (Bapanas) sedang melakukan penguatan ekosistem sapi perah dari sektor hulu hingga hilir. 

Langkah tersebut bertujuan untuk mempercepat swasembada susu nasional sekaligus menyokong jalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Indra Wijayanto selaku Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi. 

Hal ini diperlukan untuk mendongkrak produksi susu dalam negeri dan meningkatkan taraf hidup para peternak lokal.

Pemerintah berkomitmen menjadikan swasembada pangan sebagai agenda prioritas. 

Baca Juga: Benarkah Susu Ampuh Menghilangkan Rasa Pedas? Ini Penjelasan Sainsnya

Upaya tersebut harus dilakukan secara kolektif dengan membangun ekosistem yang utuh, mulai dari pemeliharaan ternak hingga distribusi ke konsumen.

Indra menilai sektor persusuan nasional tidak bisa dibenahi secara parsial. 

Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras menjadi modal optimisme bahwa target yang sama dapat diwujudkan pada komoditas susu.

Menurut data 2025, populasi sapi perah di Indonesia tercatat sebanyak 499.360 ekor. 

Total produksi susu segar mencapai 820.874 ton, dengan konsentrasi produksi utama masih berada di wilayah Pulau Jawa.

Pada sisi hilir, penguatan industri pengolahan sangat krusial untuk memberikan nilai tambah.

Selain itu, diperlukan juga jaringan distribusi yang kuat untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat luas.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengatakan bahwa pembenahan ini sangat penting. 

Karena, kebutuhan konsumsi susu nasional terus mengalami peningkatan namun di dalam negeri belum mampu dipenuhi oleh produksi domestik.

Susu adalah sumber protein hewani kualitas tinggi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak. 

Maka dari itu, ketersediaannya menjadi pilar utama keberhasilan program gizi nasional.

Amran Sulaiman selaku menteri pertanian menyoroti tingginya angka impor susu yang saat ini mencapai 81%. 

Padahal, pada beberapa dekade sebelumnya, porsi impor hanya berada di kisaran 40%.

Kenaikan tersebut dipicu oleh kebijakan masa lalu yang dianggap kurang berpihak pada sektor pertanian. 

Amran menegaskan pemerintah saat ini berjuang membatasi impor untuk melindungi komoditas lokal seperti susu, kedelai, dan gula.

Data periode 1996-2023 menunjukkan produksi susu dalam negeri cenderung stagnan di tengah melonjaknya permintaan. 

Tantangan besar menuju swasembada ini memerlukan langkah nyata dalam memperbaiki seluruh rantai pasok.

Urgensi pembenahan ekosistem dari hulu ke hilir menjadi penting untuk menekan ketergantungan impor secara bertahap.  (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#swasembada susu #impor susu #Mbg #Bapanas #sapi perah