RADARTUBAN–Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memberikan layanan khusus bagi jemaah haji kategori lanjut usia (lansia), disabilitas, dan obesitas.
Salah satunya dengan memfasilitasi mereka masuk ke Raudhah, area istimewa di dalam Masjid Nabawi yang diyakini sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa.
Sabtu (2/5) siang, para jemaah mendapat kesempatan masuk ke area rumah Nabi Muhammad SAW dan mimbar beliau yang dikenal sebagai Taman Surga.
Baca Juga: Setelah Terbang Sembilan Jam ke Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Jaga Kebugaran dengan Senam Peregangan
Mereka didampingi ketua rombongan (karom), sebagian ketua regu (karu), serta sejumlah petugas.
Hingga berita ini ditulis, Jawa Pos Radar Tuban belum memperoleh konfirmasi terkait jumlah pasti jemaah yang mendapat fasilitas khusus tersebut.
Sebelum masuk Raudhah menjelang salat duhur, para jemaah terlebih dahulu dikumpulkan di depan Gate 362 untuk pendataan.
Setelah itu, mereka diarahkan berbaris menuju jalur khusus.
Jemaah pengguna kursi roda dan lansia mendapat prioritas berada di barisan paling depan.
Seluruh proses dikawal petugas dari Syarikah Al Bait Guest, perusahaan layanan jemaah haji Indonesia untuk embarkasi Batam, Surabaya, dan Jakarta.
Mereka juga didampingi petugas Sana selaku operator Nusuk, petugas Sektor Khusus (Seksus), serta Perlindungan Jemaah (Linjam).
Kepala Bidang Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi, Suviyanto mengatakan, pelayanan terhadap jemaah lansia menjadi perhatian khusus agar mereka tetap nyaman, aman, dan dapat menjalankan ibadah dengan baik.
“Ada tiga layanan utama yang diberikan kepada jemaah lansia dan disabilitas, mulai pelayanan fisik, pelayanan ibadah, hingga pelayanan sosial,” ujarnya.
Selain membantu kebutuhan ibadah, petugas juga memberikan bantuan personal seperti mengganti pampers, membantu jemaah yang terpisah dari rombongan, hingga memfasilitasi komunikasi dengan keluarga di Tanah Air.
“Jika terpisah dengan rombongan, kami upayakan untuk bergabung kembali. Bahkan dibantu menghubungi keluarga lewat telepon petugas. Kebutuhan fisik sampai sosialnya, petugas harus siap bantu,” jelasnya.
Meski demikian, Suviyanto tetap mengimbau jemaah lansia, terutama yang berusia di atas 80 tahun atau memiliki keterbatasan fisik, untuk tidak memaksakan diri.
“Kami mengimbau agar lansia lebih banyak beristirahat. Ibadah sunah bisa dilakukan di tempat masing-masing, tidak harus selalu keluar hotel,” katanya.
Menurut dia, keterbatasan jumlah petugas di lapangan membuat dukungan dari karom dan karu sangat dibutuhkan.
“Kami minta kepada rombongan dan regunya untuk saling membantu, terutama bagi jemaah yang membutuhkan kursi roda. Jadi ada kerja sama antara petugas dan sesama jemaah,” tambahnya.
Dia juga mengingatkan kondisi cuaca di Madinah dan Makkah yang cukup panas saat ini.
Karena itu, jemaah berusia di atas 60 tahun diminta membatasi aktivitas di luar ruangan agar stamina tetap terjaga menjelang puncak haji.
“Kondisi di sini cukup panas. Kami mengimbau jemaah yang berusia di atas 60 tahun untuk tidak terlalu banyak beraktivitas di luar, terutama untuk ibadah sunah. Simpan tenaga untuk puncak haji nanti,” tegasnya.
Meski demikian, untuk ibadah penting seperti ziarah ke Raudhah dan umrah, petugas tetap memberikan pendampingan khusus, termasuk layanan kursi roda dan pengawalan selama pelaksanaan ibadah.
Ketua Kloter 29, Wakid Evendi mengapresiasi layanan tersebut. Menurutnya, perhatian khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, dan obesitas sangat membantu karena mereka memiliki keterbatasan mobilitas serta risiko kesehatan lebih tinggi.
“Program ini dirancang khusus untuk memberikan perhatian ekstra dan fasilitas memadai bagi jemaah-jemaah tersebut,” ujarnya.(*)
Editor : Dwi Setiyawan