RADARTUBAN – Pemerintah Indonesia dan Rusia telah mencapai kesepakatan untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berbasis reaktor modular kecil sekaligus memperluas kerja sama di sektor migas dan energi baru.
Kerja sama strategi ini dibahas dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke‑14 Indonesia–Rusia di Kazan, Rusia, Kamis (14/5).
Kesepakatan PLTN Berbasis Reaktor Modular Kecil
Kesepakatan Indonesia–Rusia dalam bidang energi nuklir tertuang melalui kerja sama pengembangan PLTN dengan teknologi reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Yuliot menegaskan, kolaborasi ini masuk dalam paket kerja sama energi yang diatur dalam SKB ke‑14 kedua negara.
Baca Juga: Vietnam Gandeng Rusia Bangun PLTN Pertama, Dorong Kerja Sama Energi dan Teknologi
“Kerja sama di bidang energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi serta kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, rencana termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir nuklir modular kecil,” kata Yuliot Dikutip dari sumber kompas.com.
Pemerintah Indonesia memandang PLTN berbasis SMR sebagai opsi untuk mengisi kebutuhan energi di daerah yang sulit terjangkau jaringan listrik besar, sekaligus menopang transisi energi bersih jangka panjang.
Rusia sendiri telah menyatakan komitmen membantu Indonesia dengan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk PLTN berbagai skala dan reaktor modul kecil.
Perluasan Kerja Sama Sektor Migas
Selain nuklir, Indonesia dan Rusia juga menyampaikan komitmen peningkatan kerja sama di sektor migas, termasuk pengembangan kilang minyak, eksploitasi ladang minyak dan gas, serta perdagangan LNG dan LPG.
Dalam forum SKB ke‑14, kedua pihak membahas peluang kerja sama hulu‑hilir migas guna memperkuat ketahanan energi global dan memenuhi kebutuhan pasokan Indonesia.
Rusia tidak hanya menawarkan pasokan minyak dan gas, tetapi juga investasi di sektor hilir seperti pembangunan dan modernisasi kilang serta pengembangan infrastruktur energi lainnya.
Beberapa perusahaan energi Rusia sebelumnya telah menunjukkan ketertarikannya untuk berinvestasi di proyek PLTN modular kecil di Indonesia, menambah daftar negara yang menyampaikan proposal kerja sama nuklir selain Rusia.
Peta Jalan Energi Terbarukan dan Transisi Bersih
Kerja sama energi Indonesia–Rusia juga mencakup pengembangan energi baru terbarukan dan langkah transisi energi bersih.
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan transisi energi nasional hingga tahun 2034.
Melalui PLTN SMR, proyek migas, dan pengembangan energi terbarukan, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memastikan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan.
Kerja sama dengan Rusia diharapkan menjadi bagian dari upaya Indonesia menjaga keamanan energi di tengah meningkatnya permintaan listrik dan tantangan dekarbonisasi global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni