RADARTUBAN - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat hingga menembus lebih dari Rp 17.600 memicu kegelisahan di tengah masyarakat.
Tekanan ekonomi global, perang dagang, hingga ketidakpastian pasar keuangan membuat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional kembali mencuat.
Namun di tengah situasi itu, Presiden Prabowo Subianto justru tampil santai. Saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), Prabowo meminta masyarakat tidak larut dalam kepanikan akibat gejolak dolar.
“Selama Menkeu masih senyum, aman. Rakyat desa enggak pakai dolar,” ujar Prabowo disambut tawa para tamu undangan.
Baca Juga: Empat Penipu Ngaku Utusan KPK Ditangkap, Bawa Bukti Uang 17.400 Dolar AS
Candaan itu diarahkan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang turut hadir dalam acara tersebut.
Namun di balik gurauan itu, tersimpan pesan politik dan ekonomi yang cukup kuat: pemerintah ingin menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik, khususnya di desa, tetap harus dijaga di tengah tekanan global.
Koperasi Desa Jadi Tameng Ekonomi Nasional
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya memperkuat ekonomi akar rumput melalui koperasi desa dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, penguatan perputaran uang di level lokal menjadi strategi penting agar masyarakat tidak terlalu terpukul oleh fluktuasi eksternal seperti lonjakan dolar AS atau gejolak pasar dunia.
Program koperasi desa dinilai bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen ekonomi yang diarahkan untuk memperkuat daya tahan masyarakat bawah.
Terutama di wilayah pedesaan yang selama ini relatif jauh dari aktivitas transaksi berbasis dolar.
Prabowo tampak ingin membangun narasi bahwa ekonomi rakyat harus menjadi pondasi utama ketika ekonomi global sedang tidak menentu.
Dolar Naik, Tekanan Tetap Nyata
Meski begitu, pernyataan Prabowo juga menyisakan realitas yang tak bisa diabaikan.
Kenaikan dolar tetap berpotensi memukul harga pangan impor, bahan baku industri, hingga biaya produksi dalam negeri.
Dampaknya memang tidak selalu terasa langsung di desa, tetapi efek berantainya bisa menjangkau masyarakat bawah lewat kenaikan harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli.
Karena itu, penguatan koperasi dan ekonomi lokal menjadi krusial agar masyarakat memiliki bantalan ekonomi saat tekanan global semakin agresif.
Di tengah ketidakpastian dunia, pemerintah tampaknya ingin mengirim pesan sederhana: ekonomi rakyat harus tetap bergerak, bahkan ketika dolar sedang melonjak tinggi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni