RADARTUBAN - Badan Geologi secara tegas membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai potensi letusan besar Gunung Lawu. Lembaga tersebut memastikan isu tersebut tidak benar atau hoaks.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan adanya kenaikan fluida magmatik yang mengarah ke permukaan.
Gunung Lawu sendiri berada di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
"Gunung Api Lawu termasuk gunung api tipe B atau gunung api yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara," ujar Lana.
Baca Juga: Kabupaten Tuban adalah Opsi Liburan Paling Lengkap: Dari Pantai, Goa, sampai Gunung, Semua Ada
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melakukan pemantauan dan penyelidikan di kawasan Gunung Lawu pada tahun 2021 dan 2023.
Berdasarkan hasil pemantauan, gas yang muncul di permukaan Kawah Candradimuka didominasi oleh uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), amonia (NH3), nitrogen (N2), dan hidrogen (H2).
"Hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka menunjukkan nilai 90,8-92 derajat Celsius yang mengidentifikasi tidak terjadi kenaikan lava ke permukaan," tambahnya.
Klarifikasi resmi tersebut tertuang dalam Laporan Khusus Nomor: 1079.Lap./GL.03/BGL/2026 mengenai kondisi terkini aktivitas Gunung Lawu yang dirilis pada Rabu (17/6).
Berdasarkan catatan sejarah, letusan terakhir Gunung Lawu terjadi pada tahun 1885. Sejak tahun 1600, gunung tersebut tidak memiliki catatan letusan magmatik.
Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas sumbernya dan selalu mengacu pada data resmi dari instansi berwenang terkait aktivitas vulkanik Gunung Lawu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama