Kepala BGN Bongkar Tiga Biang Kerok Program MBG, Korupsi dan Birokrasi Jadi Sorotan Utama

Tulus Widodo • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:24 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). (Instagram/@badangizinasional.ri)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). (Instagram/@badangizinasional.ri)

RADARTUBAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan. Kali ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melontarkan peringatan keras kepada seluruh jajaran internal agar berhenti terjebak dalam rutinitas rapat tanpa hasil nyata. 

Baginya, ukuran keberhasilan bukan banyaknya forum yang digelar, melainkan dampak langsung terhadap penurunan stunting dan penguatan ekonomi masyarakat.

Dalam arahannya, Sudaryono menegaskan lembaga yang dipimpinnya kini memusatkan perhatian pada tiga persoalan mendasar yang dinilai selama ini menjadi penghambat laju program nasional tersebut. Yakni, budaya koruptif, birokrasi yang tidak tertata, serta komunikasi internal yang masih terkotak-kotak.

Baca Juga: Skandal 414 Dapur MBG Terbongkar, BGN Selamatkan Rp 311 Miliar Uang Rakyat dari Potensi Penyimpangan

Rapat Tak Boleh Sekadar Formalitas

Kepala BGN menilai budaya rapat yang hanya menghasilkan tumpukan notulen sudah tidak relevan jika indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) tetap gagal dicapai.

"Rapat hingga berbusa-busa tidak akan ada nilainya jika Key Performance Indicator (KPI) kita tidak tercapai. Tugas kita memastikan gizi anak-anak meningkat, tercermin dari turunnya angka stunting, dan memutar roda ekonomi kerakyatan melalui multiplier effect program ini," tegas Sudaryono.


Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa evaluasi kinerja BGN ke depan akan lebih berorientasi pada hasil daripada proses administratif.

Korupsi Disebut Benalu Program

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BGN Sudaryono mengakui praktik koruptif yang sempat mencoreng institusi menjadi persoalan serius yang harus diselesaikan tanpa kompromi.

"Budaya koruptif yang sempat mencoreng wajah institusi ini adalah benalu yang harus dicabut. Birokrasi yang amburadul harus ditata ulang, dan sekat-sekat komunikasi yang membuat kita berjarak harus segera diruntuhkan," ujar mantan Wakil Menteri Pertanian itu.

Pernyataan ini memperlihatkan komitmen BGN untuk melakukan pembenahan menyeluruh di tengah sorotan publik terhadap tata kelola program MBG.

Target Akhir: Generasi Sehat

BGN menegaskan seluruh kebijakan pada akhirnya bermuara pada satu tujuan besar, yakni memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan kesempatan tumbuh optimal akibat kekurangan gizi.

"Arahan harus jelas, tidak boleh ada ruang ambiguitas. BGN hadir memastikan tak ada lagi generasi penerus tertinggal pertumbuhannya," pungkas politisi Partai Gerindra itu.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa keberhasilan MBG tidak akan diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya rapat, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat, terutama menurunnya angka stunting dan meningkatnya kesejahteraan ekonomi rakyat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
BGN Sudaryono Mbg Korupsi