RADARTUBAN — Menjamurnya pedagang kaki lima yang menjual olahan tepung seperti seblak, cilok, cireng, hingga aneka gorengan kerap dipandang sebagai bukti tingginya semangat kewirausahaan masyarakat.
Namun, analisis kanal YouTube Kendati Demikian menilai fenomena tersebut juga mencerminkan tantangan di pasar kerja Indonesia.
Dalam ulasannya, dijelaskan bahwa literatur ekonomi ketenagakerjaan membedakan dua jenis kewirausahaan, yakni opportunity entrepreneurship dan necessity entrepreneurship.
Jenis pertama muncul karena adanya peluang usaha dan inovasi, sedangkan jenis kedua lahir karena keterpaksaan untuk bertahan hidup akibat sulit memperoleh pekerjaan formal atau setelah terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Fenomena pedagang olahan tepung dinilai lebih mendekati kategori necessity entrepreneurship. Salah satu indikator yang disoroti ialah penurunan peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan di sektor padat karya.
Baca Juga: PHK Diganti AI Berujung Bumerang, Riset MIT Ungkap 95 Persen Proyek AI Korporasi Gagal
Pada Januari 2023 hingga Mei 2024, jumlah peserta aktif di sektor garmen dan pakaian disebut turun 4,27 persen. Di sisi lain, pekerja yang terkena PHK serta lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang belum terserap pasar kerja akhirnya beralih ke sektor informal.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang pada Februari 2026.
Meski demikian, analisis tersebut menyoroti bahwa proporsi pekerja di sektor informal masih berada pada kisaran 57 hingga 60 persen dari total angkatan kerja nasional.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan adanya disguised unemployment atau pengangguran terselubung. Banyak masyarakat tetap bekerja melalui usaha berskala kecil sehingga tidak tercatat sebagai penganggur, tetapi produktivitas dan pendapatannya relatif rendah.
Selain itu, keterbatasan modal serta rendahnya hambatan masuk membuat banyak pelaku usaha menjual produk serupa sehingga persaingan semakin ketat.
Tantangan lain muncul dari tingginya ketergantungan pada gandum impor sebagai bahan baku utama.
Ketika harga gandum dunia naik atau rantai pasok global terganggu, pedagang kecil dinilai memiliki posisi tawar yang terbatas untuk menyesuaikan harga jual, sementara daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih.
Kendati Demikian juga menyoroti adanya romantisasi UMKM sebagai "pahlawan ekonomi nasional". Menurut analisis tersebut, narasi tersebut berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar, yakni terbatasnya lapangan kerja formal dan belum optimalnya jaring pengaman sosial.
Fenomena maraknya pedagang olahan tepung dinilai bukan sekadar mencerminkan tumbuhnya usaha mikro, tetapi juga menjadi indikator masih terbatasnya kesempatan kerja formal di Indonesia.
Perluasan lapangan kerja, penguatan sektor industri, serta peningkatan ketahanan bahan baku dalam negeri dinilai penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada usaha yang lahir karena keterpaksaan ekonomi.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni