25 Tahun Merawat Lahan Kritis, Rosita Sulap Tanah Tandus Megamendung Jadi Hutan 30 Hektare

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 08:33 WIB
Rosita Istiawan, pegiat lingkungan dan pendiri kawasan Hutan Organik Megamendung.(Tangkapan layar YouTube Nat Geo Indonesia)
Rosita Istiawan, pegiat lingkungan dan pendiri kawasan Hutan Organik Megamendung.(Tangkapan layar YouTube Nat Geo Indonesia)

RADARTUBAN – Upaya pemulihan lingkungan kerap kali dihadapkan pada tantangan besar, terutama ketika harus berhadapan dengan kondisi tanah yang tandus dan tidak produktif.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Rosita, seorang perempuan tangguh berusia 63 tahun yang secara konsisten mendedikasikan hidupnya untuk merehabilitasi lahan kritis di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lewat aksi swadaya murni bersama keluarganya selama hampir 25 tahun, ia berhasil mengubah tanah mati menjadi kawasan hutan seluas 30 hektar yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Kisah perjuangan ini bermula saat kawasan tersebut masih berupa lahan bekas kebun singkong yang terlantar dan ditumbuhi alang-alang tinggi.

Baca Juga: Gandeng Plataran, BRI Gelar Immersive Wellness Garden Experience Pertama dan Terbesar di Hutan Kota Jakarta

Kondisi tanahnya tergolong sangat kritis dengan tingkat keasaman (pH) tanah yang ekstrem antara 2 hingga 4 serta berstruktur pasir. Ketika pertama kali mulai menanam, jumlah air di tempat tersebut memang sangat sedikit. 

Rosita masih ingat sekali bagaimana beratnya perjuangan di masa lalu karena ia terpaksa mengangkut sendiri kebutuhan air ke lahan miliknya.

​"Dulu datang ke sini itu tidak ada mata air, tidak ada air. Jadi Ibu bawa dari mobil, isi perosak (galon) isinya air. Dalam satu pohon satu gelas disiram karena tidak ada air," kenang Rosita.

Selama perjalanan melestarikan lingkungan, Rosita tak hanya bergelut dengan kondisi alam, tetapi juga menghadapi ancaman penjarah kayu, persoalan batas tanah, hingga ketiadaan listrik dan jalan.

Menurutnya, kunci utama untuk menghidupkan kembali alam yang rusak hanyalah satu, yaitu kesetiaan dalam memelihara serta mengawasi pertumbuhan pohon setelah masa tanam berlalu.

​"Pemerintah di mana-mana penghijauan tidak berhasil, 25.000 pohon, 100.000 pohon, karena tanam tinggal tidak dirawat. Siapapun yang nanam, ingatlah harus dirawat," tegasnya.

Dedikasi tersebut membuahkan hasil nyata. Setelah dua tahun masa awal penanaman, muncul mata air alami yang kini menyokong ekosistem.

Kini, hutan organik tersebut menampung lebih dari 121 jenis tumbuhan, 25 jenis burung, 10 jenis reptil dan amfibi, serta puluhan jenis serangga. Di tengah pesatnya pembangunan vila di Bogor, Rosita juga menitipkan pesan mendalam.

​"Boleh membangun, tapi harus membangun ekosistemnya juga. Kalau sudah tinggal di Jakarta panas, datang ke sini harus panas lagi, kan tidak lucu," ungkapnya.

Ia juga memberikan semangat kepada sesama perempuan. "Sebagai perempuan tidak usah takut, tidak laki-laki saja, perempuan juga bisa asal ada semangat dan komitmen."

Lewat kawasan hutan alami yang sekarang dikelola secara resmi oleh pihak lembaga, Rosita mempunyai harapan besar agar peninggalan alam yang hijau ini tetap terawat sekaligus bisa menularkan semangat kepada anak-anak muda untuk lebih mencintai bumi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
megamendung lahan kritis rosita hutan lingkungan