Bisnis Wood Pellet Indonesia: Bahan Bakar Ramah Lingkungan Tembus Pasar Ekspor

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:54 WIB
Produk pelet kayu (wood pellet) siap kemas. (pinterest.com)
Produk pelet kayu (wood pellet) siap kemas. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Di tengah krisis energi global dan dorongan transisi menuju energi bersih ramah lingkungan, limbah kayu yang dulunya dibuang atau dibakar sia-sia kini bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi.

Pelet kayu (wood pellet) yang merupakan bahan bakar padat berbasis biomassa dari olahan serbuk gergaji dan limbah industri furnitur, kini dilirik sebagai salah satu komoditas ekspor andalan baru bagi Indonesia.

​Secara teknis, wood pellet memiliki efisiensi panas yang tinggi. Kalori yang dihasilkan mampu mencapai 4.000 hingga 5.000 kkal/kg, setara dengan kualitas batu bara tingkat menengah.

Bedanya, bahan bakar alternatif ini menghasilkan tingkat emisi karbon yang jauh lebih rendah serta terbarukan.

Baca Juga: Dari Potongan Kayu ke Panggung Provinsi: Kisah Iky dan Lentera Torii di SMA Awards Jawa Timur

Indonesia sendiri memiliki keunggulan kompetitif yang sangat besar berkat ditunjang lebih dari 90 juta hektar kawasan hutan serta jutaan ton limbah industri kayu dan perkebunan yang melimpah setiap tahunnya.

Permintaan wood pellet di pasar internasional dilaporkan terus melonjak pesat. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), permintaan global terhadap pelet kayu meningkat lebih dari 40 persen dalam satu dekade terakhir.

Negara-negara industri seperti Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara di kawasan Eropa menjadi importir utama seiring komitmen ketat mereka dalam mengurangi penggunaan batu bara.

​Dari segi finansial, nilai ekonomi komoditas ini terbilang menjanjikan. Harga ekspor wood pellet di pasar global berkisar antara USD 120 hingga USD 150 per ton.

Pengiriman satu kontainer berkapasitas 20 ton saja diperkirakan dapat menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp30 juta.

Proses pembuatannya relatif lugas, yakni limbah gergaji dikeringkan hingga kadar airnya minim lalu dipadatkan menggunakan mesin pencetak silinder khusus.

Meski menjanjikan omzet melimpah, pelaku usaha di sektor ini menghadapi tantangan utama pada konsistensi rantai pasok dan standar kualitas produk.

Negara tujuan ekspor mensyaratkan tingkat kadar air yang sangat rendah, ukuran pelet yang seragam, serta bebas dari campuran bahan kimia berbahaya.

​Keberhasilan UMKM di Jawa Timur yang mengawali usahanya dari skala rumahan hingga mampu menembus pasar Korea Selatan menjadi bukti nyata potensi bisnis ini.

Oleh karena itu, para penggiat industri menyarankan agar pelaku usaha lokal memulainya dari skala UMKM terlebih dahulu. Dengan pengolahan yang tepat, industri biomassa ini tidak hanya menjadi solusi pengolahan limbah, tetapi juga berpotensi diterapkan di skala pedesaan guna menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
krisis energi pelet kayu wood pellet kayu limbah