RADARTUBAN – Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) berujung pada perdebatan antara Gubernur Ria Norsan dan mahasiswa di kawasan Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (3/9).
Pertemuan yang awalnya menjadi ruang penyampaian aspirasi tersebut berubah tegang setelah muncul pembahasan mengenai keterlibatan mahasiswa dalam penanganan karhutla di lapangan.
Dalam dialog dengan massa aksi, Ria Norsan mempertanyakan apakah mahasiswa ikut turun membantu menangani kebakaran.
"Mahasiswa ada turun?" tanya Norsan.
Pertanyaan tersebut dijawab peserta aksi dengan menyatakan bahwa mereka telah terlibat dalam penanganan karhutla selama beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Orang Utan yang Pingsan Akibat Asap Karhutla di Kalbar Meninggal Dunia
Namun, percakapan tidak berhenti di situ. Saat Norsan kembali menanyakan keterlibatan mahasiswa dalam pemadaman api, massa menegaskan bahwa mereka memang telah turun langsung ke lokasi terdampak.
Koordinator Pusat Federasi Organisasi Mahasiswa Daerah (FOMDA) Kalbar Syahrifal Muhrim kemudian menyebut mahasiswa tidak hanya menyampaikan kritik. Menurutnya, mahasiswa juga menjadi relawan di sejumlah lokasi dan membuka posko bantuan bagi masyarakat terdampak.
Mahasiswa Soroti Kondisi di Lapangan
Mahasiswa datang membawa kritik terhadap penanganan karhutla yang dinilai belum memberikan solusi konkret.
Mereka menyoroti berbagai kendala yang masih ditemui ketika membantu masyarakat dan melakukan penanganan di lapangan. Mulai dari sulitnya mendapatkan sumber air, keterbatasan peralatan pemadaman hingga kebutuhan logistik.
FOMDA Kalbar juga mempertanyakan kehadiran pemerintah pusat yang dinilai belum memberikan dampak nyata terhadap penanganan kebakaran.
Kritik itu semakin tajam karena kunjungan pejabat pemerintah ke daerah dinilai jangan sampai hanya berakhir pada kegiatan seremonial. Mahasiswa meminta kehadiran pemerintah diikuti langkah nyata untuk mengatasi persoalan karhutla.
Tuntutan Tak Hanya Soal Kabut Asap
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan.
Mereka mendesak pemerintah mempertimbangkan penetapan karhutla di Kalimantan Barat sebagai bencana nasional. Selain itu, Menteri Kehutanan diminta menghadirkan langkah konkret untuk memperkuat mitigasi dan penanganan kebakaran.
Mahasiswa juga meminta pihak yang terbukti bertanggung jawab terhadap kebakaran ditindak tegas, termasuk perusahaan yang dinilai lalai dalam pengelolaan maupun pengawasan lahan.
Baca Juga: Cegah Karhutla Saat Kemarau, Damkar Tuban Minta Warga Tak Bakar Sampah dan Puntung Rokok
Kedatangan Menhut Terkendala Kabut Asap
Aksi mahasiswa tersebut berlangsung bertepatan dengan rencana kedatangan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Kalbar.
Namun, agenda tersebut terkendala kondisi kabut asap. Pesawat yang membawa rombongan Menteri Kehutanan disebut tidak dapat mendarat di Bandara Supadio karena jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Ria Norsan menjelaskan kondisi tersebut kepada mahasiswa.
"Pesawat tidak bisa turun, jarak pandangnya harus oke," tegasnya.
Dalam agenda awal, Menteri Kehutanan dijadwalkan meninjau sejumlah titik karhutla di wilayah Kubu Raya sekaligus melihat kondisi masyarakat terdampak. Rencana tersebut juga disertai agenda pemberian bantuan dan koordinasi penanganan karhutla.
Perdebatan Berujung Viral
Perbedaan pandangan mengenai penanganan karhutla kemudian membuat suasana dialog semakin panas.
Salah seorang mahasiswa mengkritik kedatangan pejabat yang dinilai belum menghasilkan solusi konkret. Pernyataan itu kemudian dibalas pihak gubernur sehingga terjadi adu argumen di tengah massa.
Rekaman momen tersebut tersebar di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah orang terlihat berusaha meredakan situasi dan menjauhkan pihak-pihak yang terlibat dalam perdebatan.
Meski berlangsung tegang, inti aksi mahasiswa tetap berkaitan dengan desakan agar pemerintah memperkuat penanganan karhutla. Mereka meminta persoalan kabut asap tidak berhenti pada pernyataan atau kunjungan pejabat, tetapi diikuti langkah nyata di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni