Ferry Irwandi Ajak Masyarakat Patungan Rp 50 Miliar untuk Pulihkan Hutan Kalimantan

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 06:38 WIB
Ferry irwandi kampanyekan "Patungan untuk Hutan" (Dok. Ferry Irwandi)
Ferry irwandi kampanyekan "Patungan untuk Hutan" (Dok. Ferry Irwandi)

RADARTUBAN – Kerusakan hutan Kalimantan semakin parah. Kebakaran, pembabatan, penebangan liar, hingga ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara membuat hutan hujan tropis yang dahulu lebat perlahan menghilang, tandus dan gundul. 

Kondisi memprihatinkan inilah yang  mendorong Ferry Irwandi untuk mengajak masyarakat tak sekadar ramai membicarakan kerusakan hutan di media sosial, tetapi ikut mengambil bagian dalam upaya pemulihannya.

Ferry menggagas gerakan patungan untuk hutan Kalimantan dengan target menghimpun Rp 50 Miliar. Dana tersebut ditujukan untuk membiayai perlindungan dan pemulihan hutan.

“Selama ini gagasan tersebut hanya kita cetuskan sebagai mimpi, sebagai khayalan, sebagai pembicaraan tapi hari ini mari benar-benar kita lakukan. Patungan untuk hutan, kita enggak bercanda soal itu,” kata Ferry.

Gerakan tersebut bukan sekadar mengumpulkan uang untuk membeli hutan secara sembarangan.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Kalimantan: Perjuangan Chanee Kalaweit Menembus Asap dan Kemarau

Dia menjelaskan, persoalan hutan berkaitan dengan status kawasan, hak atas tanah, perhutanan sosial, hutan adat, konsesi, tata ruang, hingga kewenangan pemerintah pusat dan daerah. Karena itu, gerakan ini akan memanfaatkan infrastruktur sosial yang sudah ada dan memperbesar skalanya.

Dengan target Rp 50 miliar, perlindungan dan pemulihan diproyeksikan  mencakup 10.000 – 25.000 hektar bentang hutan, restorasi sekitar 1.000 hektar lahan terdegradasi, serta penanaman 1,5–1,6 juta bibit pohon lokal.

Dana juga akan digunakan untuk kebutuhan darurat kebakaran hutan dan lahan. Tim pemadam swadaya seperti TCA, MPA, dan BPK membutuhkan mesin pompa air, selang, alat pelindung diri, obat-obatan, logistik, serta sumber air untuk menghadapi api di garis depan.

Setiap kawasan yang mendapat bantuan akan diverifikasi status hukumnya, disusun baseline ekologi, dicatat biayanya, serta dipantau tingkat kelangsungan hidup pohon selama satu hingga lima tahun.

“Ukuran keberhasilan yang bagus itu nantinya bukan berapa banyak jumlah uang yang bisa kita kumpulin tapi berapa hektar hutan yang tetap berdiri 5, 10, 20, atau 100 tahun dari sekarang? Berapa pohon yang benar-benar tumbuh menjadi hutan? Berapa koridor yang kembali dilewati satwa? Berapa keluarga yang sekarang mendapat penghasilan karena menjaga hutan?” kata Ferry.

Pesan serupa disampaikan Dr. Kinari dari ASRI ( pendiri yayasan Alam Sehat Lestari ). Menurutnya, perlindungan hutan merupakan tanggung jawab bersama karena manusia, satwa, dan ekosistem saling terhubung.

“Everyone all over this planet, we are all connected and it's all of our jobs to protect the forest,” ujarnya.

Adapun gagasan mengenai  perlindungan kawasan hutan, salah satunya telah diterapkan oleh  Yayasan Kalaweit.

Andrew Kalaweit  menjelaskan, organisasi yang didirikan ayahnya sejak 1998 itu awalnya berfokus menyelamatkan primata Oa-Oa. Namun, fokusnya kemudian berkembang pada perlindungan ekosistem karena penyelamatan habitat dinilai lebih efektif.

“Kita sadar bahwa kami enggak bisa nyelamatin hutan Kalimantan, Kalimantan itu luas sekali. Yang kita perjuangkan hanyalah pulau-pulau hutan di beberapa tempat yang memang strategis,” ujar Andrew.

Baca Juga: Kisah Rosie: Mantan Desainer London yang Pilih Hidup Mandiri di Hutan Swedia

Salah satu kawasan yang dijaga merupakan fragmen hutan seluas sekitar 2.000–2.500 hektar yang terkepung perkebunan sawit dan pertambangan batu bara. 

Kalaweit menggunakan pendekatan kemitraan dengan masyarakat. Warga tetap memiliki hak atas lahannya dan dapat mengambil hasil hutan secara wajar, tetapi dilarang menebang kayu dan berburu satwa.

“Kita datang, kita kasih hak yang sama seperti yang dilakukan oleh perusahaan tetapi hutannya tidak hilang. Masyarakat tetap boleh berkegiatan di dalam asal tidak ada yang namanya menebang dan berburu,” Ungkap Andrew.

Dengan Model tersebut terbukti  telah  mengamankan sekitar 3.500 hektar kawasan dan melibatkan warga desa sebagai tim patroli.

Kalaweit juga telah mengurus perizinan PBPH-RE dengan masa kelola yang dapat mencapai 90 tahun.

Selain Kalaweit, upaya konservasi juga melibatkan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), serta kelompok lokal. BOSF mengelola sekitar 86.593 hektar di Kalimantan Timur dan Program Mawas di Kalimantan Tengah dengan lanskap sekitar 309.000 hektar yang menampung sekitar 2.550 orangutan liar.

Sementara, Yayasan ASRI mengintegrasikan kesehatan masyarakat dengan pemulihan lingkungan. Warga dapat membayar biaya berobat menggunakan bibit pohon lokal. Hasilnya, lembaga ini  telah menanam lebih dari 700.000 bibit dan merestorasi 435 hektar lahan rusak.

Dari berbagai upaya    tersebut menunjukkan, bahwa menjaga hutan bukan hanya soal siapa yang memiliki kawasan, tetapi tentang kemauan untuk menjaganya bersama.

Ajakan Ferry menjadi salah satu langkah berani untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan, agar hutan Kalimantan tidak sekadar menjadi kisah , tetapi tetap berdiri lebat dan memberi kehidupan bagi generasi mendatang.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
patungan untuk hutan hutan kalimantan ferry irwandi