Polemik Penerbitan Buku Islam ala Prabowo, Buya Taftar: Sarat Glorifikasi Politik yang Berlebihan

Nadia Aulia • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:13 WIB
Buku Islam ala Prabowo Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. (Instagram.com/ detakpublisher)
Buku Islam ala Prabowo Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. (Instagram.com/ detakpublisher)

RADARTUBAN – Penerbitan buku berjudul "Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" menuai sorotan publik.

Buku yang diluncurkan dalam rangkaian acara Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2026 tersebut memicu polemik setelah sejumlah tokoh agama membantah pernah menyumbang tulisan maupun memberikan persetujuan pencantuman nama mereka.

Baca Juga: Said Aqil juga Bantah Tulis Buku Islam Ala Prabowo, Lalu Siapa Penulisnya?

Sejumlah Tokoh Agama Ramai-Ramai Layangkan Bantahan

Gus Kautsar (KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar) menjadi salah satu nama yang dicatut.

Melalui istrinya, Ning Jazil, pihak Gus Kautsar menegaskan tidak pernah menulis artikel untuk buku tersebut dan mempertanyakan pencantuman nama tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Bantahan serupa disampaikan TGB Muhammad Zainul Majdi.

Namanya tertera pada halaman 241 sebagai penulis artikel visi keislaman Prabowo, namun dia mengaku tidak pernah mengirimkan naskah untuk penerbitan tersebut.

KH Said Aqil Siroj juga turut memberikan klarifikasi senada mengenai ketidaktlibatannya.

Buku terbitan Atmosphere Publishing House ini diinisiasi oleh Ketua MPR RI sekaligus Sekretaris Dewan Pembina Gerindra Ahmad Muzani bersama Pimpinan MUI KH Anwar Iskandar.

Sorotan Tajam Kredibilitas dan Isi Buku

Kontroversi ini mendulang kritik dari pengamat, salah satunya Buya Taftar melalui kanal YouTube Satu Visi Utama.

Dia menilai pencantuman nama tokoh tanpa kontribusi nyata merugikan kredibilitas karya ilmiah dan jurnalistik.

"Sama sekali enggak ada relevansinya dengan diri Prabowo, karena dia tidak pernah berbicara tentang Islam dalam arti memberikan perspektif keislaman," ujar Buya Taftar.

Dia juga menyebut, judul buku tersebut terlampau provokatif karena isi materi lebih dominan membahas kebijakan pemerintahan, seperti tata kelola haji dan program BAZNAS.

Dinilai Bentuk Glorifikasi Politik

Buya Taftar mengkritik, langkah penerbitan ini sebagai bentuk glorifikasi politik yang berlebihan serta berpotensi kontraproduktif di mata publik.

Menurutnya, pemaksaan narasi agama demi kepentingan politik justru mengundang kecaman ketimbang simpati.

"Ngejilat itu sudah biasa dalam dunia politik. Jangan sampai dipaksakan, nanti malah kontra produktif. Alih-alih dapat simpati, malah dapat kecaman," ujarnya.

Bagi Buya Taftar, kontroversi tersebut menunjukkan bagaimana kepentingan politik dapat masuk terlalu jauh ke dalam sebuah karya yang membawa nama agama.

Dia bahkan menyebut buku itu lahir dalam konteks politik yang banal dan bukan sebagai karya intelektual yang serius.

"Dia lahir dalam sebuah konteks politik yang banal," kata Buya Taftar.

Viralnya buku Islam ala Prabowo bukan hanya karena judulnya yang mengundang perhatian.

Bantahan sejumlah tokoh terhadap pencantuman nama mereka justru menjadi persoalan utama yang membuat publik mempertanyakan kredibilitas dan proses penerbitan buku tersebut. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
islam ala prabowo buya taftar Politik agama