RADARTUBAN - Perdebatan panas belum lama ini melanda dunia maya setelah aktris sekaligus penyanyi cilik Maudy Ayunda mengunggah video tentang cara menjaga kesehatan mental atau mindfulness di tengah derasnya arus berita buruk.
Dalam konten tersebut, Maudy membahas bagaimana seseorang bisa memilah informasi dan menjaga pikiran agar tidak terus-menerus stres menghadapi kabar negatif yang terus mengudara akhir-akhir ini.
Sejumlah warganet menilai pendekatan ini kurang tepat karena ditempatkan ketika sebagian masyarakat sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan nyata yang mendesak, seperti isu ketersediaan bahan bakar minyak, bencana alam, hingga kebakaran hutan.
Bagi banyak orang, kesulitan hidup tersebut bukan sekadar berita buruk yang bisa dijauhkan dari pikiran, melainkan realitas berat yang harus mereka hadapi setiap hari.
Baca Juga: Sering Lelah Baca Berita Buruk? Ini Tips Mindfulness dan Menjaga Mental ala Maudy Ayunda
Situasi semakin memanas setelah kreator konten Bima Yudho Saputro ikut memberikan tanggapan melalui media sosial platform Threads dan membandingkan Maudy dengan Cinta Laura.
Bima menilai Cinta Laura lebih konsisten serta berani menggunakan ruang publiknya untuk membahas isu sosial, keadilan, dan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Perbandingan ini kemudian melebar pada latar belakang pendidikan keduanya yang sama-sama mentereng.
Maudy Ayunda merupakan lulusan University of Oxford dan penerima beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan di Stanford University, sedangkan Cinta Laura menempuh pendidikan di Columbia University dengan biaya pribadi.
Status Maudy sebagai penerima beasiswa dari dana negara inilah yang membuat sebagian warganet menuntut adanya kepekaan moral serta kontribusi yang lebih nyata bagi masyarakat luas.
Meski demikian, polemik ini memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana publik menilai sebuah pengaruh dan tanggung jawab seorang figur publik di era digital.
Dikutip dari kanal YouTube Bukamata.id, dinamika ini menunjukkan bahwa pencapaian akademis dan prestasi saja tidak lagi cukup untuk memuaskan ekspektasi masyarakat.
Sebagaimana disampaikan dalam video tersebut, "Prestasi memang bisa membuat seseorang dikagumi, tetapi cara seseorang menggunakan pengaruhnya bisa menentukan publik merasa semakin dekat atau justru semakin berjarak." Ujar narator Bukamata.id dalam videonya.
Pada akhirnya, kontroversi ini mengingatkan bahwa jika memiliki panggung yang luas, maka menuntut kepedulian yang sejalan dengan realitas kehidupan masyarakat di sekitarnya.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni