RADARTUBAN - Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai pencopotan Purbaya Yudi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan berakar pada dua kelemahan mendasar, yakni komunikasi publik yang buruk serta penanganan masalah substansi yang belum tuntas.
Pandangan ini bertolak belakang dengan opini sebagian warganet yang menganggap pencopotan tersebut terjadi lantaran Purbaya terlalu jujur dan berani membongkar persoalan internal.
Soroti Masalah Komunikasi dan Substansi Unggulan
Dalam tayangan podcast Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Mahfud menegaskan bahwa gaya komunikasi Purbaya sering kali memicu kegaduhan alih-alih menghadirkan penyelesaian.
Baca Juga: Ramai Disebut Dana Tambahan Gempa NTT, Purbaya Ungkap Fakta soal Rp 44 Miliar
“Kelemahan Purbaya yang paling mendasar tuh dua sebenarnya: satu, komunikasi publiknya buruk; kemudian substansi urusannya juga tidak beres,” tegas Mahfud.
Mahfud menyoroti pernyataan Purbaya mengenai ancaman 490 daerah yang berpotensi kesulitan membayar gaji pegawai.
Menurutnya, informasi sensitif semestinya disampaikan beriringan dengan solusi konkret, bukan sekadar dilempar ke ruang publik.
Selain itu, perdebatan terbuka Purbaya dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terkait Dana Bagi Hasil serta perselisihannya dengan Feri Latuhihin turut dinilai melanggar etika komunikasi pejabat.
Dari sisi substansi, Mahfud menyinggung sejumlah beban kebijakan yang dinilai belum rampung.
Beberapa di antaranya mencakup pengelolaan proyek Kereta Cepat Whoosh yang kembali membebani APBN, penerimaan negara yang terkesan menyasar masyarakat kecil serta industri rumahan, hingga janji pembenahan Bea Cukai yang belum menunjukkan perbaikan struktural.
Asumsi Warganet dan Respons Publik
Berbeda dengan analisis Mahfud, kolom komentar unggahan podcast tersebut justru dibanjiri dukungan netizen terhadap Purbaya.
Banyak warganet yang menilai Purbaya sebagai sosok pejabat pekerja keras, gemar melakukan inspeksi mendadak, serta tegas menindak pelanggaran.
Sejumlah warganet bahkan berspekulasi bahwa pencopotan Purbaya terjadi karena keberaniannya berterus terang.
"Orang jujur wajib disingkirkan itu yang berlaku di Indonesia," tulis salah satu netizen.
Komentar lain menimpali, "Pejabat kuwatir koropsinya di bongkar Purbaya makanya Purbaya dipecat."
Kendati demikian, klaim bahwa Purbaya dicopot karena faktor "terlalu jujur" atau sengaja disingkirkan pihak tertentu masih sebatas asumsi liar di media sosial dan belum menjadi alasan resmi keputusan pemerintah. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari