RADARTUBAN - Karnaval malam yang semestinya menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW justru berujung sorotan.
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan ramai diperbincangkan setelah salah satu penampilan menampilkan visual yang disebut bernuansa satanik.
Potongan video yang beredar di media sosial memperlihatkan peserta mengenakan kostum bertanduk, membawa properti menyerupai peti mati bernoda darah, hingga berjalan di atas simbol pentagram terbalik.
Ada pula adegan teatrikal penyembelihan kambing yang membuat penampilan tersebut semakin menuai perhatian.
Baca Juga: Diduga Usung Konsep Satanik, Karnaval Peringatan Maulid Nabi di Pekalongan Menuai Kecaman
SKNC digelar pada Kamis malam (10/9), di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan.
Kegiatan itu menjadi rangkaian Kirab Khitanan Massal ke-61 PR NU Simbang Kulon sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kontroversi tersebut kemudian mendapat sorotan dari Ustaz Felix Siauw.
Melalui video di kanal YouTube-nya, Felix mempertanyakan penggunaan visual bernuansa satanik dalam kegiatan yang membawa nama peringatan Maulid Nabi.
"Maksudnya gini, dia memakai nama Maulid Nabi Muhammad, tapi menghadirkan segala macam yang ritualnya satanik," katanya.
Menurutnya, persoalan tidak berhenti pada bentuk hiburan atau pertunjukan.
Ia menilai simbol yang digunakan juga perlu dipahami berdasarkan sejarah dan konteksnya.
Salah satu yang disoroti ialah simbol Baphomet. Ia memaparkan sejarah istilah itu yang dalam catatan sejarah pernah digunakan sebagai bentuk distorsi terhadap nama Muhammad.
"Kata Baphomet ini pertama kali muncul dan digunakan sebagai istilah pengganti Muhammad. Jadi sebenarnya kata Baphomet adalah bentuk penghinaan kepada Rasulullah," ujarnya.
Ia juga mengaitkan simbol Sigil of Baphomet dengan perkembangan satanisme modern.
Bagi Felix, penggunaan simbol semacam itu dalam ruang publik, terlebih dalam acara bernuansa keagamaan, perlu mendapat perhatian serius.
"Ada usaha untuk menjadikan satanik ini kayak budaya dan seolah-olah budaya ini harus terus diterima oleh agama ini harus dibahas dan diselidiki," tuturnya.
Baca Juga: Link Video Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral, Durasi 21 Detik Direkam dari CCTV
Di sisi lain, Tim Simone sebagai penampil telah menyampaikan permohonan maaf. Mereka mengaku kurang literasi mengenai referensi simbol yang digunakan dalam pertunjukan.
Panitia juga memberikan klarifikasi mengenai adegan penyembelihan kambing. Kambing tersebut disebut merupakan kambing pasar yang kemudian dikonsumsi bersama peserta, bukan bagian dari ritual pemujaan setan.
Namun, bagi Ustadz felix persoalan literasi tetap menjadi catatan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menganggap penggunaan simbol kontroversial sebagai sesuatu yang wajar hanya karena dibungkus dalam konsep seni dan budaya.
"Setiap hal-hal yang buruk itu masuk tidak langsung, tapi dengan perkara-perkara kecil bersembunyi di balik karnaval budaya. Sebagai orang tua kita harus ingatkan anak-anak kita," pesannya.
Di tengah polemik tersebut, seorang peserta berinisial AF (40) juga meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan. Berdasarkan klarifikasi kepolisian dan keluarga, AF meninggal akibat kelelahan pasca-acara, bukan karena ritual mistis.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni