RADARTUBAN – Angka hampir Rp 200 juta mendadak menyeret nama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono ke sorotan.
Bukan soal anggaran dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan uang yang digelontorkan untuk membuat konten di media sosial lebih ramai dilihat publik.
Data Meta Ads Library mencatat belanja iklan yang dikaitkan dengan Sudaryono mencapai Rp 199.014.038 pada periode 15 Juni hingga 12 September 2026.
Sejumlah materi yang dipromosikan berkaitan dengan MBG dan informasi mengenai program pemerintah.
Kini Sudaryono buka kartu. Politisi Partai Gerindra itu mengakui memang melakukan boosting konten di platform Meta.
Namun, ada satu hal yang ditegaskannya: uang tersebut disebut berasal dari kantong pribadinya, bukan anggaran pemerintah.
Baca Juga: BGN Siapkan Marketplace MBG, Celah Main Harga Pemasok Bakal Dipersempit
Sudaryono: Saya Boosting Biar Viral
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui akun Instagram @dardardar_30, Jumat (25/9), Sudaryono menjelaskan alasan di balik pengeluaran tersebut.
“Medsos saya itu saya boosting. Saya boosting itu jadi supaya viral, itu saya boosting di Meta. Kalau nggak salah berapa tuh duanya, dua ratus juta apa ya. Selama dari Juli sampai September,” kata Sudaryono.
Ia kemudian menegaskan bahwa biaya tersebut tidak menggunakan uang negara.
“Saya boosting pakai uang saya sendiri, bukan pakai anggaran, ya kan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Promosi, Ada Pesan MBG
Sudaryono mengatakan boosting dilakukan karena ingin memperluas penyebaran informasi positif tentang MBG di tengah derasnya percakapan media sosial.
“Saya berkepentingan untuk bagaimana mensyiarkan berita-berita yang baik itu di tengah satu cara yang dibikin-bikin oleh orang-orang itu,” katanya.
Sudaryono juga menyinggung kondisi ketika kerja positif seseorang justru dibingkai negatif di ruang digital.
Baca Juga: Keracunan MBG Makin Disorot, BGN Intip Rahasia Makan Gratis Jepang dan Model Central Kitchen
Dia menyebut fenomena tersebut dengan istilah DFK yang menurutnya berkaitan dengan disinformasi, fitnah, dan kebencian.
“Orang yang kerja baik dibilang nggak baik. Orang yang kerjanya sudah bagus, itu kemudian dia DFK namanya,” ujar Sudaryono.
Di sisi lain, angka Rp 199 juta dalam Meta Ads Library tetap perlu dibaca sesuai konteks.
Data tersebut menunjukkan nilai belanja iklan yang dikaitkan dengan pengiklan bernama Sudaryono dalam periode tertentu, bukan bukti bahwa uang itu berasal dari APBN.
Klarifikasi Sudaryono kini menjawab titik paling krusial: ia menyatakan biaya boosting tersebut berasal dari uang pribadinya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni