RADARTUBAN – Keberanian menyuarakan ketidakadilan tidak selalu lahir dari panggung besar atau posisi berpengaruh. Kepedulian terhadap persoalan di sekitar dapat menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan.
Pesan itulah yang disampaikan Virdian Aurellio Hartono saat membagikan perjalanan aktivismenya dalam perbincangan di kanal YouTube Suara Berkelas.
Ketertarikan Virdian terhadap persoalan sosial tumbuh dari pengalaman hidupnya sejak kecil.
Dia melihat bahwa kesulitan ekonomi yang dialami seseorang tidak selalu bisa dijelaskan sebagai akibat kurangnya usaha.
Kondisi sosial dan kebijakan yang berlaku juga dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk memperbaiki taraf hidup.
Baca Juga: Serap Aspirasi Masyarakat, Mas Lindra Siapkan Fasilitas Olahraga Mini Soccer di Tiga Titik
Pandangan tersebut semakin berkembang ketika Virdian mengikuti organisasi siswa saat SMA. Salah satu pengalaman yang membekas terjadi dalam kegiatan jambore OSIS di Bogor.
Saat itu, peserta diminta berorasi di sebuah pasar sebagai latihan menyampaikan pendapat di depan umum.
Bagi Virdian, berbicara di hadapan banyak orang bukan hal yang mudah.
Meski demikian, dia memberanikan diri menyampaikan keresahan mengenai kondisi Indonesia berdasarkan pengalaman dan pandangannya sendiri.
Usai orasi, seorang nenek menghampirinya dan memberikan pelukan. Respons sederhana itu meninggalkan kesan mendalam bagi Virdian karena menunjukkan bahwa keberanian menyampaikan keresahan dapat menyentuh orang lain.
“Kalau suara saja bisa membuat harapan, apalagi dengan tindakan,” ujar Virdian Aurellio Hartono.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanannya terlibat dalam gerakan mahasiswa dan kegiatan advokasi.
Dia memandang perubahan sebagai proses yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat, kemudian berkembang melalui kerja bersama.
Menyuarakan Persoalan Lingkungan
Perhatian Virdian terhadap ketidakadilan juga mencakup persoalan lingkungan. Dalam perbincangan itu, dia menyinggung kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta dampaknya terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
Bagi warga, persoalan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam. Paparan asap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara kebutuhan ekonomi membuat sebagian orang tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca Juga: BEM UI Pilih Aksi di Bundaran HI karena Aspirasi Dinilai Tak Pernah Didengar Pemerintah
Dampak kerusakan lingkungan juga dapat berlangsung setelah api berhasil dipadamkan. Gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, dan hilangnya ruang hidup menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya pemulihan.
Virdian menilai penanganan persoalan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi.
Pencegahan dan kebijakan yang memperhatikan keberlanjutan juga dibutuhkan agar masyarakat tidak terus menanggung dampak kerusakan.
“Enggak semua penderitaan datang dari Tuhan. Banyak penderitaan lahir dari kebijakan dan manusia rakus,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menekankan pandangannya bahwa penderitaan masyarakat tidak selalu bisa dilepaskan dari keputusan manusia.
Karena itu, kebijakan publik dan pihak yang memiliki kewenangan perlu menjadi bagian dari perhatian masyarakat ketika membahas persoalan sosial maupun lingkungan.
Anak Muda Jangan Apatis terhadap Politik
Virdian juga mengajak generasi muda untuk tidak menjauh dari politik.
Menurutnya, politik bukan hanya urusan pejabat atau partai, melainkan turut berkaitan dengan kebijakan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, seperti akses transportasi, kesempatan kerja, dan perlindungan lingkungan.
Anak muda dapat mulai mengambil peran dengan mempelajari persoalan di sekitarnya, menyampaikan aspirasi, bergabung dengan komunitas, atau terlibat dalam kegiatan advokasi. Kontribusi tidak harus langsung berskala besar, tetapi dapat tumbuh melalui langkah yang konsisten.
Baca Juga: BRIN Cari Anak Muda IQ 120+ untuk Disiapkan Jadi Ilmuwan dan Ahli Antariksa
Dia juga menekankan pentingnya gerakan kolektif. Ketika orang-orang dengan kepedulian yang sama bekerja bersama, upaya menyampaikan aspirasi dan mendorong perubahan tidak hanya bertumpu pada keberanian satu individu.
Melalui pengalamannya, Virdian mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan lebih dari sekadar keprihatinan. Keberanian menyampaikan pendapat perlu diikuti tindakan nyata, sementara kepedulian harus dibangun melalui kerja sama.
Bagi generasi muda, menyuarakan ketidakadilan dapat menjadi awal untuk ikut menentukan masa depan. Dengan memahami persoalan, berani menyampaikan aspirasi, dan terlibat dalam upaya bersama, anak muda memiliki ruang untuk berkontribusi bagi masyarakat yang lebih adil. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni