Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ogah Ikutan Tren Dance Medsos, Remaja 16 Tahun Asal Jatirogo Tuban Ini Pilih Setia Rawat Tari Tradisional

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 8 Juli 2026 | 17:01 WIB
Kuasai tari gambyong hingga genjring party, siswi SMKN Jatirogo Firly Amalia Nesha sebut tari tradisional sarat akan nilai filosofi. (Firly Amalia Nesha untuk Radar Tuban)
Kuasai tari gambyong hingga genjring party, siswi SMKN Jatirogo Firly Amalia Nesha sebut tari tradisional sarat akan nilai filosofi. (Firly Amalia Nesha untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Di tengah gempuran tren tari modern dan budaya asing yang masif di media sosial, komitmen melestarikan seni tradisional justru tumbuh kuat dalam diri Firly Amalia Nesha.

Itu dibuktikan dengan memilih menekuni dan menghidupkan kembali keindahan tari tradisional di kalangan remaja seusianya.

Ketertarikan remaja asal Desa Ketodan, Kecamatan Jatirogo ini bukan muncul begitu saja.

Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK), Firly sudah akrab dengan panggung tari. Baginya, tari tradisional bukan sekadar gerakan fisik yang menyatu dengan ritme musik pengiring. Melainkan juga seni yang memiliki filosofi dan keunikan tersendiri.

Baca Juga: Bikin Jatuh Cinta, Ini Siasat Winda Amellia Biar Anak Muda Tuban Enggak Malu Belajar Tari Gambyong

‘’Setiap tari tradisional itu memiliki cerita dan filosofi yang mendalam. Selain itu, aku juga ingin tetap memegang teguh nilai adat istiadat," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Tuban. 

Sejak kiprahnya di dunia tari tradisional, remaja 16 tahun ini telah menguasai berbagai jenis tarian daerah, mulai dari tari gambyong yang menurutnya paling mudah dikuasai, tari jejer, sorote lintang, hingga genjring party yang menjadi tantangan paling sulit karena membutuhkan ketekunan dan teknik yang lebih kompleks.

Pengalaman panggungnya pun tidak sekadar di lingkup sekolah. Siswi SMKN Jatirogo ini tercatat pernah tampil di berbagai panggung tari tingkat desa hingga kecamatan.

Pengalaman tersebut semakin mempertegas kemampuannya di hadapan publik dalam upaya ikut serta melestarikan budaya. 

‘’Menurutku, tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya minat generasi muda yang lebih terpikat pada tarian modern. Tapi itu justru semakin memicu semangatku untuk bertahan di bidang ini,” imbuhnya. 

Dia menilai, estetika tari tradisional terletak pada gerakannya yang sarat makna mencerminkan budaya daerah, hal yang menurutnya jarang ditemukan pada tari modern yang cenderung bebas berekspresi.

Lebih lanjut, remaja Gemini ini berpendapat bahwa eksistensi tari tradisional saat ini berada di persimpangan jalan dan butuh penyelamatan. Langkah yang bisa diambil sebagai seorang remaja adalah mengenalkannya sejak dini melalui sanggar tari atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

‘’Generasi muda adalah penerus bangsa. Sangat penting bagi kita untuk menjaga dan mewariskan kekayaan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman," pungkas alumni SMPN 1 Montong ini. (saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #jatirogo #tari #Dance