Mengenal Dwi Rozania, Nakes RSUD Tuban yang Kepikat Olahraga Ekstrem Trail Run

M. Mahfudz Muntaha • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:25 WIB
Dwi Rozania mengikuti event trail run dan menikmati setiap rute yang dilewatinya. (Istimewa)
Dwi Rozania mengikuti event trail run dan menikmati setiap rute yang dilewatinya. (Istimewa)

RADARTUBAN - Olahraga lari tak melulu dilakukan di jalanan beraspal. Bagi sebagian pelari, medan berbatu, tanjakan, dan jalur hutan justru menjadi tantangan yang menyenangkan.

Pilihan itu dikenal sebagai trail run, yakni olahraga lari lintas alam yang memanfaatkan jalur alami, seperti pegunungan, perbukitan, hutan, hingga medan berbatu.

Dibandingkan lari di jalan raya, trail run membutuhkan tenaga dan daya tahan lebih besar.

Baca Juga: TV, Kulkas, dan AC Laris, Kenapa HP Polytron Justru Gagal di Pasar Smartphone?

Pelari harus menghadapi tanjakan, turunan, serta permukaan tanah yang tidak rata. Karena itu, olahraga ini tak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga mental.

Meski medannya lebih menantang, trail run kini semakin diminati perempuan. Salah satunya Dwi Rozania. Ketika sebagian perempuan memilih berlari di jalanan perkotaan, dia justru menikmati tantangan berlari di alam terbuka.

‘’Trail run itu benar-benar menguji mental dan kekuatan fisik. Justru di situ letak tantangannya,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr R. Koesma Tuban itu baru menekuni trail run sekitar setahun terakhir. Sebelumnya, dia lebih sering berlari di jalan raya. Namun, setelah mencoba trail run, Dwi mengaku langsung jatuh hati.

Menurut dia, meski membutuhkan tenaga lebih besar, trail run menawarkan pengalaman yang berbeda. Berlari menyusuri perbukitan dan jalur alam membuatnya mendapatkan suasana yang sulit ditemukan di tengah kota.

‘’Kalau di alam itu tidak ada suara kendaraan. Yang terdengar hanya suara alam. Meski capek rasanya tidak begitu terasa karena suasananya nyaman,’’ ungkapnya.

Bagi ibu satu anak ini, trail run juga bukan sekadar aktivitas untuk mencari tantangan.

Olahraga tersebut memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan, mulai dari melatih kekuatan otot, membakar lebih banyak kalori, hingga meningkatkan keseimbangan dan stabilitas tubuh. 

‘’Sekarang semakin banyak perempuan yang mulai tertarik berolahraga, termasuk trail run, karena manfaatnya memang besar untuk kesehatan,’’ imbuhnya.

Kesibukan sebagai nakes tak membuat Dwi meninggalkan hobinya. Dia tetap menyempatkan diri berlatih, setidaknya sebulan sekali atau ketika ada agenda bersama komunitas trail run.

Sejumlah lokasi pun pernah menjadi tempatnya berlatih, termasuk kawasan Bromo dan Mojokerto.

Baca Juga: Lari di Atas Sejarah, Tantangan Ekstrem Great Wall of China Marathon

Saat berada di Tuban, Dwi biasanya memilih kawasan Wisata Banyu Langseh dan Bukit Baswara di Kecamatan Rengel. Menurut dia, kedua lokasi tersebut memiliki karakteristik medan yang cocok untuk latihan trail run.

‘’Kalau bertemu komunitas trail run dari daerah lain, saya sering mengenalkan rute-rute di Tuban. Ke depan, saya dan teman-teman juga punya rencana membuat event trail run di kawasan perbukitan Rengel,’’ katanya.

Kecintaannya pada trail run juga mendorong Dwi untuk mengikuti sejumlah event. Salah satunya Event Lelono di Kusuma Agrowisata Kota Batu pada Januari lalu.

Dia juga mengikuti Manta yang digelar di kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang, Pasuruan.

Dalam waktu dekat, Dwi dijadwalkan mengikuti CTC di Parangtritis, Yogyakarta. Dia juga akan ambil bagian dalam BRODER50 atau Bromo Desert Race yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

Tak berhenti di sana, Dwi masih membidik sejumlah event trail run lainnya. ‘’Masih ada beberapa event yang ingin saya ikuti ke depan,’’ pungkasnya. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Train Run Tuban lari mojokerto bromo