RADARTUBAN - Sepak Takraw Jatim memasang target ambisius untuk menjadi barometer nasional setelah pelantikan pengurus baru Persatuan Sepak Takraw Indonesia Pengprov PSTI Jawa Timur.
Komitmen ini disampaikan jajaran pengurus sebagai bagian dari pembenahan tata kelola dan sistem pembinaan yang lebih terstruktur.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjawab tantangan prestasi sekaligus memperkuat posisi PSTI Jawa Timur di level nasional.
Reformasi Tata Kelola dan Pembinaan Berjenjang
Ketua Pengprov Persatuan Sepak Takraw Indonesia Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan pihaknya ingin menghadirkan perubahan menyeluruh.
“Kami ingin menghadirkan napas baru, mulai dari pelatih, wasit, hingga pembinaan atlet berjenjang. Target kami jelas, Jawa Timur menjadi barometer sepak takraw nasional,” kata Aries.
Menurut dia, pembinaan atlet harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara konsisten hingga level senior.
Skema ini menjadi fondasi agar pembinaan atlet berjenjang tidak berhenti pada level kejuaraan daerah saja.
Aries juga menekankan pentingnya sistem kompetisi yang terstruktur untuk mendukung target tersebut.
Liga dan turnamen lokal akan menjadi bagian dari ekosistem prestasi menuju ajang nasional seperti Pekan Olahraga Nasional.
Peran Sport Science dalam Strategi Besar
Upaya menjadikan Sepak Takraw Jatim sebagai barometer nasional tidak hanya mengandalkan kompetisi.
Pengurus juga meluncurkan buku panduan sebagai rujukan resmi bagi 29 pengurus cabang kabupaten dan kota.
Buku itu memuat pendekatan sport science sepak takraw yang mencakup aspek fisik, postur tubuh, nutrisi, kesehatan, hingga pola latihan terukur.
“Boleh berinovasi, tetapi pakem pembinaan harus jelas. Prestasi lahir dari bibit yang benar dan pembinaan berbasis sport science,” pungkasnya.
Pendekatan sport science sepak takraw diharapkan mampu meningkatkan kualitas latihan sekaligus meminimalkan risiko cedera atlet.
Strategi ini juga menjadi pembeda dibanding pola lama yang cenderung mengandalkan pengalaman tanpa sistem ilmiah yang kuat.
Dukungan Pengurus Pusat dan KONI
Ketua PB PSTI, Surianto, menyebut Jawa Timur memiliki potensi besar dalam cabang ini.
“Saya berharap Ketua Umum PSTI Jawa Timur bisa menggalakkan pembinaan atlet mulai dari usia dini, remaja, hingga dewasa. Jawa Timur memiliki potensi besar di cabang sepak takraw, dan ini menjadi harapan kami agar atlet-atlet daerah mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat regional maupun internasional,” ujar Surianto.
Dukungan serupa datang dari Ketua Umum KONI Jawa Timur>, Muhammad Nabil.
“Penguatan jam terbang melalui event resmi, baik nasional maupun internasional, sangat penting. Atlet yang sering bertanding akan lebih matang secara mental dan psikologis,” jelas Nabil.
Ia menilai kompetisi rutin akan memperkuat mental tanding sekaligus mendukung target Sepak Takraw Jatim di ajang nasional.
Target Prestasi dan Tantangan Realisasi
Meski optimistis, tantangan tetap ada.
Penurunan raihan medali pada PON sebelumnya menjadi catatan yang harus dievaluasi secara objektif.
Karena itu, PSTI Jawa Timur diminta memastikan implementasi program tidak berhenti di atas kertas.
Konsistensi dalam menjalankan pembinaan atlet berjenjang akan menjadi kunci keberhasilan.
Selain itu, penerapan sport science sepak takraw membutuhkan kesiapan sumber daya manusia di tingkat kabupaten dan kota.
Jika strategi berjalan sesuai rencana, Sepak Takraw Jatim berpeluang kembali menjadi kekuatan utama nasional.
Target menjadi barometer bukan sekadar slogan, melainkan agenda kerja yang harus terukur dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi antara pengurus provinsi, kabupaten, dan dukungan KONI, arah pembinaan kini berada pada jalur yang lebih sistematis.
Keberhasilan program ini pada akhirnya akan diuji melalui prestasi nyata di level nasional maupun internasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni