RADARTUBAN - Cedera ACL mengintai atlet di berbagai cabang olahraga dan sering kali menimbulkan kekhawatiran karena biaya operasi serta proses pemulihannya dinilai cukup berat bagi banyak atlet.
Cedera pada lutut ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami atlet ketika menjalani latihan intensif maupun saat bertanding.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan jaminan sosial atlet semakin penting agar para atlet tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang layak.
Di Jawa Timur, KONI Jawa Timur mulai memperkuat upaya perlindungan bagi atlet melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.
Program tersebut menyasar atlet yang tergabung dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) agar mendapatkan jaminan sosial ketika mengalami risiko kecelakaan atau cedera.
Baca Juga: Cedera Cristiano Ronaldo Picu Kekhawatiran, Mimpi Tampil di Piala Dunia 2026 Terancam
Cedera ACL Menjadi Ancaman Serius bagi Atlet
Cedera ACL atau Anterior Cruciate Ligament merupakan cedera pada ligamen lutut yang sering terjadi dalam aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi.
Cedera ini kerap dialami atlet dari berbagai cabang olahraga yang membutuhkan gerakan cepat, perubahan arah, atau benturan fisik.
Direktur Utama RS Ubaya, dr. Wenny Retno Sarie Lestari, menyebut cedera tersebut termasuk salah satu yang paling sering dialami oleh atlet.
Menurutnya, biaya penanganan cedera ACL tidaklah murah karena dalam banyak kasus pasien harus menjalani tindakan operasi.
“Selama beberapa tahun bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Juanda, cukup banyak atlet Jawa Timur yang kami tangani,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tim medis juga sering memberikan pendampingan langsung pada sejumlah cabang olahraga dengan risiko cedera tinggi.
Pendampingan tersebut memungkinkan atlet mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga proses pemulihan bisa berjalan lebih optimal.
Biaya Operasi Jadi Beban bagi Atlet
Proses pemulihan cedera ACL tidak hanya membutuhkan operasi tetapi juga rehabilitasi dalam jangka waktu cukup lama.
Hal ini membuat biaya pengobatan bisa membengkak jika tidak didukung dengan perlindungan kesehatan yang memadai.
Karena itu keberadaan BPJS Ketenagakerjaan dinilai mampu menjadi solusi untuk membantu menanggung biaya pengobatan atlet.
Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, mengatakan perlindungan bagi atlet menjadi bagian penting dari upaya pembinaan prestasi olahraga.
Menurutnya, jaminan sosial juga memberikan rasa aman bagi atlet saat menjalani latihan dan pertandingan.
“Tentu tujuan utamanya adalah memberikan rasa aman dan nyaman bagi atlet ketika mereka masuk program kita (Puslatda). Kita sudah menggaransi keselamatan dan kesehatan mereka,” ujar Nabil.
Ia menjelaskan bahwa banyak atlet di Jawa Timur sudah merasakan manfaat dari program jaminan sosial tersebut.
“Banyak atlet yang sudah merasakan manfaat BPJS dan penanganan dari rumah sakit. Itu benar-benar dirasakan oleh teman-teman atlet,” katanya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Paparkan Cara Aktifkan Kembali PBI JKN yang Dinonaktifkan
Jaminan Sosial Atlet Dinilai Penting
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Juanda, Teldi Rusnal, menilai atlet pada dasarnya juga merupakan profesi yang memiliki risiko kecelakaan kerja.
Menurutnya, aktivitas olahraga yang intens membuat potensi cedera selalu ada di setiap cabang olahraga.
“Pada dasarnya atlet itu juga termasuk pekerjaan. Karena itu harus didaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan, apalagi risiko kecelakaannya cukup tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa risiko cedera tidak hanya terjadi pada cabang olahraga dengan kontak fisik tinggi.
“Jangankan atlet combat, yang bukan seperti renang pun tetap rentan mengalami cedera otot,” tambahnya.
Karena itu keberadaan jaminan sosial atlet dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan para atlet tetap terlindungi selama menjalani karier olahraga mereka.
Ke depan, KONI Jawa Timur juga berencana memperluas perlindungan tersebut agar tidak hanya menyasar atlet Puslatda tetapi juga atlet di luar program tersebut.
Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan lebih luas sehingga risiko cedera seperti cedera ACL tidak lagi menjadi beban finansial bagi atlet maupun keluarganya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni