RADARTUBAN - Ada 500 Atlet Disabilitas Segera Pensiun, Pemerintah Siapkan Jalan Karier Baru menjadi perhatian serius Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam upaya menjaga keberlanjutan pembinaan atlet disabilitas di Tanah Air.
Langkah ini diwujudkan melalui pelaksanaan Training of Trainers (TOT) Penggerak Olahraga Disabilitas “Berdaya” yang resmi dibuka Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir.
Program ini menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem olahraga disabilitas Indonesia sekaligus menyiapkan masa depan para atlet yang akan memasuki masa purna tugas.
Baca Juga: Layanan Khusus Raudhah untuk Jemaah Lansia, Disabilitas, dan Obesitas Dapat Pendampingan Ekstra
Sebanyak 200 peserta dari 29 daerah mengikuti pelatihan yang digagas Kemenpora bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.
Menpora Erick menegaskan bahwa regenerasi dalam pembinaan atlet disabilitas tidak cukup hanya melahirkan atlet berprestasi.
Menurutnya, negara juga harus memikirkan masa depan para atlet setelah tak lagi aktif bertanding.
“Jangan sampai atlet-atlet ini hanya diingat ketika sedang berjaya, tetapi kalau sudah selesai hanya ucapan terima kasih saja yang diberikan,” sebut Menpora Erick.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa keberlanjutan karier atlet disabilitas harus menjadi perhatian bersama.
Pelatih Jadi Solusi Karier Baru
Melalui program TOT, pemerintah menyiapkan jalur baru agar para atlet yang pensiun dapat bertransformasi menjadi pelatih profesional.
Skema ini dinilai menjadi solusi strategis untuk menjaga kualitas pembinaan atlet disabilitas di daerah.
“Tidak mungkin ada pembangunan atlet dari daerah tanpa dikawal oleh tentu saja figur-figur yang mengerti bagaimana melahirkan atlet. Nah hari ini alhamdulillah kami mencoba mensertifikasi,” urai Menpora.
Menpora menambahkan, program ini bukan sekadar pelatihan biasa.
“Ini bukan berarti kami menjadi ‘menara gading’ Kemenpora, tetapi kami bekerja sama dengan NPC, agar ketika mereka (para trainer) kembali ke daerah bisa memiliki kualifikasi yang diterima untuk menjadi pakar pelatihan,” sambung Menpora Erick.
Keberadaan pelatih bersertifikat akan memperkuat sistem olahraga disabilitas Indonesia hingga ke level daerah.
Langkah itu sekaligus membuka peluang kerja baru bagi para mantan atlet disabilitas.
Potensi Besar yang Belum Tergarap
Data Kemenpora menunjukkan terdapat 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia.
Sebanyak 11 persen di antaranya memiliki minat besar terhadap olahraga.
Artinya, ada jutaan calon bibit atlet disabilitas yang membutuhkan pendampingan serius.
“Jadi ada hampir dua juta lebih mereka yang gemar berolahraga. Kalau dua juta lebih itu memerlukan dua persen pelatih, perlu berapa banyak pelatihnya yang dipersiapkan. Nah ini yang kita harus cukupi, belum lagi sekolah-sekolah yang memerlukan kepakaran kepelatihan,” terang Menpora.
Kondisi ini menandakan kebutuhan tenaga pelatih untuk olahraga disabilitas Indonesia masih sangat besar.
Tanpa sistem pembinaan atlet disabilitas yang kuat, banyak potensi bisa terlewat.
NPC Sambut Positif Langkah Kemenpora
Ketua Umum NPC Indonesia Senny Marbun menyebut program ini sebagai terobosan besar.
“Saya rasa ini salah satu karya Kemenpora yang luar biasa. Dan baru kali ini ada karya seperti ini di Kemenpora. Oleh karena itu kami berterima kasih kepada Bapak Erick Thohir sebagai menteri pemuda dan olahraga yang luar biasa saat ini,” ucap Ketum NPC Indonesia.
Ia menilai langkah ini menjadi fondasi penting bagi masa depan olahraga disabilitas Indonesia.
Menurutnya, tantangan terbesar selama ini bukan hanya soal prestasi.
Pembukaan akses yang merata juga menjadi pekerjaan rumah besar.
“Masih banyak anak-anak disabilitas di Indonesia yang memiliki potensi besar, namun belum mendapatkan ruang pembinaan yang tepat,” tegas Ketum NPC Indonesia.
Melalui program ini, diharapkan pembinaan atlet disabilitas semakin terstruktur.
Langkah tersebut juga membuka peluang baru agar para atlet disabilitas yang pensiun tetap berkarya dan terus menginspirasi generasi berikutnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni