Sebaik-baik generasi sekarang adalah mewariskan kebaikan-kebaikan untuk generasi yang akan datang, dan sebaik-baik pemimpin adalah menyiapkan SDM untuk masa depan. Dan satu di antara instrumen yang paling efektif dalam membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter adalah membaca buku.
MUNGKIN pesan ini akan terdengar klise, lantaran sudah sering kita dengar: 15 menit membaca buku sebelum pelajaran dimulai.
Tujuannya, untuk menumbuhkan dan menciptakan budaya baca sejak usia anak-anak. Namun, selama itu pula pesan tersebut tidak pernah konsisten dijalankan oleh pengambil kebijakan.
Karenanya, tidak heran berdasar data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. Dari 1.000 orang Indonesia hanya satu yang rajin membaca atau 0,001 persen.
Jika kita renungkan, bangsa ini memang aneh. Ketika membahas masa depan tentang bonus demografi dan generasi emas 2045, misalnya. Para pemangku kebijakan, pejabat dari tingkat pusat hingga daerah, begitu atraktif dan aktif dalam menyusun program jangka pendek, menengah, hingga panjang. Anggaran miliaran hingga triliunan digelontorkan untuk menyusun kurikulum pendidikan dan tetek bengek lainnya.
Namun, tidak pernah sekalipun menyentuh hal paling dasar dari tujuan pendidikan itu sendiri, yakni menumbuhkan budaya baca secara konsisten. Jika pun masih ada 1 dari 1.000 masyarakat Indonesia yang gemar membaca, sepertinya bukan karena kurikulum pendidikan yang membentuknya. Melainkan lingkungan dan kesadaran diri.
Sebagai orang yang berusaha konsisten menggemari membaca, melihat rendahnya minat baca generasi saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Sulit bagi saya membayangkan, generasi 2045 seperti apa yang diharapkan jika generasi yang disiapkan jauh dari literasi.
Mungkin di antara kita masih ada yang bertanya: Apa manfaatnya membaca buku dalam menyongsong bonus demografi. Toh tantangan ke depan adalah teknologi, bukan cerdas cermat.
Sehingga yang perlu disiapkan adalah keterampilan dalam memanfaatkan teknologi, bukan membaca buku. Menurut saya, ini adalah pertanyaan zaman batu, dan ketika dijawab pun tidak akan menyelesaikan persoalan. Sebab, pertanyaan itu berangkat dari orang yang memang tidak gemar membaca. Sementara manfaat membaca hanya bisa dipahami dan dirasakan oleh mereka yang gemar membaca. Seperti halnya menjelaskan rasa manis kepada pasien covid.
Harus diakui bahwa generasi milenial atau generasi Y, dan lebih khusus lagi generasi Z atau Alpha, mereka memiliki keterampilan dan cukup adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun, juga harus diakui bahwa generasi yang lahir pasca tahun 90-an ini tidak memiliki bekal karakter yang cukup. Memang tidak semua, tapi rata-rata. Dan itu disebabkan oleh rendahnya minat baca.
Ya, generasi saat ini sudah terdisrupsi oleh teknologi, sehingga tidak lagi memiliki kegemaran membaca. Dan itu pula yang kini menyebabkan banyak anak kesulitan membaca dan berinteraksi. Kecanduan HP telah menjadikan anak-anak tidak peduli dengan lingkungannya dan enggan untuk belajar. Saat di kelas, mereka kesulitan menerima pelajaran. Juga tidak memiliki rasa percaya diri dan lebih suka menyendiri.
Manfaat Membaca sejak Dini
Merujuk sejumlah literatur, membudayakan membaca sejak dini berperan penting dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak di masa mendatang.
Anak yang gemar membaca akan memiliki keterampilan berbicara dan kemampuan dalam berbahasa yang lebih baik, serta mudah konsentrasi. Dan ini menjadi modal penting dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain di masa yang akan datang.
Selain itu, kebiasaan membaca juga membantu perkembangan kognitif atau mental anak. Sehingga, anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah dalam memahami konsep dan pemecahan masalah.
Dan tidak kalah penting, kebiasaan membaca mengajarkan anak tentang sebuah proses dan sikap skeptis (selalu ingin tahu). Terlebih, di era yang serba cepat ini, penting bagi seorang anak memiliki sikap skeptis dan mencintai proses. Sehingga tidak menjadi generasi yang cengeng dan mudah termakan hoaks.
Meski sedikit terlambat, namun masih ada waktu untuk memperbaiki minat baca anak-anak. Hanya saja, dibutuhkan good will dari para pemangku kebijakan. Sebab, pengaruh keluarga dan para pegiat literasi saja tidak cukup untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Kebiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran harus dijadikan kebijakan yang konsisten dijalankan.
Inilah yang kami harapkan dari calon-calon kepala daerah yang kini sedang berkompetisi. Jangan hanya program infrastruktur yang diunggulkan, sementara investasi SDM jangka panjang diabaikan.
Apa sih susahnya membuat kebijakan membiasakan anak membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, lalu bercerita dan mengelaborasi apa yang telah dibaca. Tidak ada yang susah, kecuali wakil presiden kita yang memang tidak suka membaca itu. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama