Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Budayakan Membaca 15 Menit sebelum Pelajaran

Ahmad Atho’illah • Senin, 11 November 2024 | 00:25 WIB

Photo
Photo

Sebaik-baik generasi sekarang adalah mewariskan kebaikan-kebaikan untuk generasi yang akan datang, dan sebaik-baik pemimpin adalah menyiapkan SDM untuk masa depan. Dan satu di antara instrumen yang paling efektif dalam membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter adalah membaca buku.

 

MUNGKIN pesan ini akan terdengar klise, lantaran sudah sering kita dengar: 15 menit membaca buku se­belum pelajaran dimulai.

Tujuannya, untuk menum­buhkan dan menciptakan budaya baca sejak usia anak-anak. Namun, selama itu pula pesan tersebut tidak pernah konsisten dijalankan oleh pengambil kebijakan.

Karenanya, tidak heran berdasar data United Nations Edu­cational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), mi­nat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. Dari 1.000 orang Indonesia ha­nya satu yang rajin membaca atau 0,001 persen.

Jika kita renungkan, bangsa ini memang aneh. Ketika membahas masa depan ten­tang bonus de­mografi dan generasi emas 2045, misalnya. Para pemangku kebi­jakan, pejabat dari tingkat pusat hingga daerah, begitu atraktif dan aktif dalam me­nyusun pro­gram jangka pendek, menengah, hingga panjang. Ang­garan milia­ran hingga triliunan digelontorkan untuk menyusun kuriku­lum pen­didikan dan tetek bengek lainnya.

Namun, tidak pernah sekalipun me­nyentuh hal paling dasar dari tujuan pendidikan itu sendiri, yakni menum­buhkan budaya baca secara konsisten. Jika pun masih ada 1 dari 1.000 masya­ra­kat Indonesia yang gemar mem­baca, sepertinya bukan karena kurikulum pendidikan yang membentuknya. Melain­kan lingkungan dan kesadaran diri.

Sebagai orang yang berusaha konsisten menggemari membaca, melihat ren­dahnya minat baca gene­rasi saat ini sungguh sangat mem­prihatinkan. Sulit bagi saya memba­yangkan, generasi 2045 se­perti apa yang diharapkan jika ge­nerasi yang disiapkan jauh dari literasi.
Mungkin di antara kita masih ada yang bertanya: Apa man­faatnya membaca buku dalam menyong­song bonus demo­grafi. Toh tanta­ngan ke depan adalah teknologi, bukan cerdas cermat.

Sehingga yang perlu disiapkan adalah kete­rampilan dalam meman­faatkan teknologi, bukan membaca buku. Menu­rut saya, ini adalah perta­nyaan zaman batu, dan ketika dijawab pun ti­dak akan menye­lesaikan per­soalan. Sebab, perta­nyaan itu be­rang­­kat dari orang yang me­mang tidak gemar mem­baca. Sementara manfaat membaca ha­nya bisa dipa­hami dan dira­sakan oleh mereka yang gemar membaca. Seperti halnya menje­laskan rasa manis kepada pasien covid.

Harus diakui bahwa generasi milenial atau generasi Y, dan lebih khusus lagi generasi Z atau Alpha, mereka memiliki keteram­pilan dan cukup adaptif terhadap per­kem­bangan teknologi. Namun, juga harus diakui bahwa generasi yang lahir pasca tahun 90-an ini tidak memiliki bekal karakter yang cukup. Memang tidak semua, tapi rata-rata. Dan itu dise­babkan oleh rendahnya minat baca.

Ya, generasi saat ini sudah ter­disrupsi oleh teknologi, sehingga tidak lagi memiliki kegemaran membaca. Dan itu pula yang kini menyebabkan banyak anak kesu­litan membaca dan berin­teraksi. Kecanduan HP telah menjadikan anak-anak tidak peduli dengan lingkungannya dan enggan untuk belajar. Saat di kelas, mereka kesulitan mene­rima pelajaran. Juga tidak me­miliki rasa percaya diri dan lebih suka menyendiri.

Manfaat Membaca sejak Dini
Merujuk sejumlah literatur, mem­bu­dayakan membaca sejak dini berperan penting dalam memben­tuk karakter dan kecerdasan anak di masa mendatang.

Anak yang gemar membaca akan memiliki keterampilan berbicara dan kemampuan dalam berbahasa yang lebih baik, serta mudah konsentrasi. Dan ini menjadi modal penting dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain di masa yang akan datang.

Selain itu, kebiasaan membaca juga membantu perkembangan kognitif atau mental anak. Se­hingga, anak yang terbiasa mem­baca akan lebih mudah dalam mema­hami konsep dan pemecahan masalah.

Dan tidak kalah penting, ke­biasaan membaca mengajarkan anak tentang sebuah proses dan sikap skeptis (selalu ingin tahu). Terlebih, di era yang serba cepat ini, penting bagi seorang anak memiliki sikap skeptis dan mencintai proses. Sehingga tidak menjadi generasi yang cengeng dan mudah termakan hoaks.

Meski sedikit terlambat, namun masih ada waktu untuk memper­baiki minat baca anak-anak. Ha­nya saja, dibutuhkan good will dari para pemangku kebija­kan. Sebab, pengaruh keluarga dan para pegiat literasi saja tidak cukup untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Kebia­saan membaca 15 menit sebelum pelajaran harus dijadikan kebijakan yang konsisten dijalankan.

Inilah yang kami harapkan dari calon-calon kepala daerah yang kini sedang berkompetisi. Jangan hanya program infrastruktur yang diunggulkan, sementara investasi SDM jangka panjang diabaikan.

Apa sih susahnya membuat ke­bijakan membiasakan anak mem­baca 15 menit sebelum pel­ajaran dimulai, lalu bercerita dan meng­elaborasi apa yang telah dibaca. Tidak ada yang susah, kecuali wakil presiden kita yang memang tidak suka membaca itu. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Sebelum #Membaca Buku #demografi #pendidikan #penting #manfaat #pelajaran #menit #sejak dini #generasi