RADARTUBAN- Dunia pendidikan sering kali menjadi bahan “rerasan” masyarakat karena perubahan yang dengan mudah menjadi tema pembicaraan—yang terkadang menjadi bahan olok-olokan.
Perubahan-perubahan terjadi hanya dirasakan ganti nama, dengan subtansi yang 11-12 saja.
Mulai dari istilah PPDB (Penerimaan Peserta Didk Baru) menjadi SPMB (Sistem penerimaan Murid), dan berbagai istilah lain, mulai yang umum maupun teknis dalam pendidikan.
Ungkapan ganti menteri ganti kebijakan seolah-olah menemukan kebenarannya.
Kita semua pastilah berharap pendidikan kita harus berjalan dengan baik, agar mampu menghadirkan generasi yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih baik.
Bapak/ibu guru, pastilah orang yang di garda depan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, para pemangku kebijakan sudah pasti ingin “gugur gunung” agar semua impian dan cita-cita agung dalam pendidikan nasional bisa menjadi kenyataan, bukan hanya impian, apalagi igauan saja.
Apa ada yang salah dalam pendidikan kita? Cak Lontong, sang komedian itu, membuat lelucon satir tentang pendidikan kita.
Katanya, dulu di tahun 1970-an sampai 1980-an negeri tetangga Malaysia mengimpor dari Indonesia, sekarang Malaysia mengimpor ART dari Indonesia.
Bukan Indonesia yang mundur tetapi selera orang Malaysia yang turun.
Dulu sukanya guru sekarang sukanya ART. Tentu ini hanyalah lelucon satir saja, seharusnya dunia pendidikan bisa bercermin dari realita yang menjadi lelucon Cak Lontong.
Perkataan pahit tentang kenyataan pendidikan Indonesia, ketika kita sampai kepada kesimpulan, dulu Malaysia berguru di Indonesia tentang bagaimana mengelola pendidikan, tetapi sekarang Malaysia telah meninggalkan kita, karena berkembang lebih cepat.
Tidak mudah menentukan kebenaran perkataan ini, karena ukuran kualitas pendidikan itu mempunyai aspek yang luas, tetapi itu kritik bagi mereka yang seharusnya secara moral mempunyai tanggung jawab besar sebagai pengibar tinggi bendera kualitas pendidikan di Indonesia.
Saatnya dunia pendidikan bergerak lebih cepat untuk menyusun paradigma percepatan kualitas pendidikan, dengan langkah yang lebih jelas rinci, baik jangkauan 10 tahun, 20 tahun atau sampai 30 tahun yang akan datang.
Tidak sekedar kebijakan yang terlihat gagah dengan paradigma “ganti menteri ganti kebijakan”.
Dunia pendidikan dan masyarakat agak jenuh juga dengan perubahan-perubahan yang seringkali diviral-viralkan namun mudah berubah, padahal untuk mewujukan keberhasikan sebuah konsep pendidikan membutuhkan waktu yang relatif lama.
Ketika dunia pendidikan kaget dengan kebijakan penghapusan jurusan di SMA, seperti IPA dan IPS, belum lepas “kagetnya” kebijakan itu akan dikembalikan ada penjurusan.
Ketika P-5 baru proses melangkah dengan berbagai projek yang diagungkan sebagai jembatan pembangkit semangat kreatifitas peserta, tiba-tiba datang kabar P-5 diganti P-7, tidak lagi berupa projek tetapi masuk ke dalam pembelajaran pada setiap mapel.
Lalu, dengan sedikit harap-harap cemas, dunia pendidikan menunggu apa yang akan berubah.
Tidak salah dengan perubahan, tetapi harus disadari bahwa dunia pendidikan itu mempunyai gerbong yang amat panjang dengan jutaan penumpang.
Setiap perubahan membutuhkan waktu yang lama bagi “gerbong-gerbong” itu mengikutinya, belum semua gerbong mengikuti “tiba-tiba” lokomotif penggeraknya pindah rel, belok kiri atau kanan, dengan tanda yang seringkali terasa cepat sekali.
Dunia pendidikan kita sering kali menggunakan logika Roro Jonggrang, yang meminta 1000 candi dalam semalam.
Padahal, dia tahu sendiri, seribu candi dalam semalam adalah sesuatu yang mustahil, butuh keajaiban untuk bisa melakukan.
Bahkan, ketika keajaiban itu akan bisa diwujudkan oleh Bandung Bondowoso dengan segala pasukan gaibnya, Roro Jongrong berubah rencana membuat pagi seolah-olah telah datang, bersama kokok ayam menyambut datangnya fajar.
Saat Roro Jonggrang meminta 1000 candi, ia tidak sungguh-sungguh meminta, hanya ego yang melekat dalam dirinya yang berbicara.
Ia ingin menolak Bandung Bondowoso dengan memintanya melakukan keajaiban.
Di dunia pendidikan ada pemikiran seperti Roro Jonggrang meminta sesuatu yang istimewa dalam waktu yang instan, tanpa proses yang seharusnya ditempuh.
Masih ada tradisi berpikir, yang dalam tradisi Jawa disebut “sak dheg sak nyet”.
Dalam waktu yang cepat peserta didik bisa berpikir bagus seperti pendidikan di Finlandia, dalam waktu “sak dheg sak nyet” peserta didik bisa disiplin seperti pelajar di Jepang, tahun depan nilai rata-rata anak-anak meningkat 0,40 dan seterusnya.
Hasilnya, tentu kita bisa merasakan tumbuhnya tradisi serba instan yang dipercepat agar sesuai dengan permintaan, pendidikan bukan sebuah proses yang membutuhkan tetapi berganti mengikuti arah angin bertiup dari pemangku kebijakan.
Apa sih susahnya berubah mengikuti angin bertiup? Mudah sekali. Namun dunia pendidikan adalah proses menjadikan peserta didik menjadi lebih baik, bukan jalan mudah sekedar berubah, tetapi jalan terjal yang harus didaki.
Lalu, ketika peserta didik terjun ke masyarakat, terjadi berbagai kritik, anak-anak tidak dibekali kemampuan yang cukup untuk terjun ke masyarakat.
Pada titik ini perlu ada blue print pendidikan jangka panjang yang harus diikuti, tidak ada lagi lelucon “ganti menteri ganti kebijakan”, karena seharusnya pendidikan adalah proses abadi “memanusiakan manusia” yang menjauh dari kepentingan politik sesaat, apalagi sekedar pencitraan yang mudah pudar digerus angin politik.
Dunia pendidikan memang tidak sederhana, apalagi dalam kompleksitas sosial, budaya, agama, dan politik, tetapi dengan kebersamaan kita pasti bisa menjadikan Indonesia lebih baik.
Kapan? Ya sabar, mari bersama berproses, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang bisa kita lakukan, dan mulai sekarang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni