RADARTUBAN - Cepat atau lambat hanya soal perasaan. Dari dulu hingga sekarang, konsepsi waktu tidak pernah berubah.
Satu hari dihitung 24 jam. Satu jam terkonversi 60 menit, dan satu menit adalah 60 detik. Pun demikian dengan perasaan yang kami alami sekarang. Tidak terasa, tepat 4 Juni 2025, Jawa Pos Radar Tuban genap berusia 11 tahun.
Bagi kami, sebelas merupakan angka yang memiliki makna filosofi cukup dalam. Baik secara arti maupun numerologi. Dalam bahasa Jawa, angka 11 disebut sewelas.
Diksi sewelas ini berasal dari frasa duwe roso welas atau yang berarti mempunyai rasa kasih sayang.
Dianggap sebagai simbol fase kehidupan. Bertumbuh kembangnya kasih sayang seorang manusia. Juga diyakini sebagai angka keberuntungan, kebangkitan dan keselarasan tujuan hidup.
Itu pula harapan dan doa-doa yang kami rapalkan dalam merayakan HUT kali ini. Dengan bertumbuh kembangnya rasa kasih sayang di usia ke-11 ini, maka semakin besar pula harapan untuk kebahagiaan.
Sebab, kebahagiaan tidak akan terwujud tanpa adanya rasa kasih sayang dan saling mencintai. Itulah semangat yang akan kami bangun dalam menyongsong hari esok yang lebih panjang.
Konsisten memupuk rasa kasih sayang antarkru dan terus berusaha mencintai apa yang kita kerjakan.
Sehingga bisa menghasilkan produk-produk jurnalistik yang berkualitas di tengah distorsi informasi media sosial.
Selain memiliki makna roso welas, dalam numerologi atau studi per-angka-an, angka 11 sangat erat kaitannya dengan manifestasi.
Sebuah proses untuk mewujudkan gagasan, keinginan, dan cita-cita menjadi kenyataan dengan fokus, keyakinan, dan tindakan yang terarah.
Persis seperti semangat kami di hari spesial ini. Di tengah ketidakstabilan ekonomi global dan inflasi yang tinggi, kami akan terus berusaha berdiri tegak dalam melewati segala tantangan dengan langkah-langkah yang profesional.
Sebab, kami ingat betul pesan Sutan Sjahrir: Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.
Trust dan Tantangan Media Cetak di Era Disrupsi Digital
Sungguh kami menyadari bahwa tantangan media cetak di era kiwari ini sangatlah berat. Terlebih, seiring berkembangannya akal imitasi (AI) yang kian tidak terkendali—menggerus orisinalitas kerja-kerja jurnalis.
Walakin, kami tetap bangga menjadi bagian dari media cetak. Terlebih, setelah membaca hasil survei Nielsen Consumer & Media View (CMV), yang menyebutkan bahwa koran merupakan media yang paling dipercaya masyarakat.
Inilah yang kami yakini bahwa media koran masih akan terus bertahan dalam waktu yang cukup panjang.
Bagi kami, kepercayaan adalah investasi yang sangat mahal. Tidak bisa dibarter dalam bentuk apa pun. Karena itu, sekalipun media daring dan media sosial terus berkembang, koran akan tetap mendapat tempat di hati masyarakat.
Hanya saja, bukan berarti tanpa tantangan. Sebaliknya, trust publik inilah yang menjadi tantangan sesungguhnya media koran.
Artinya, jika ingin terus bertahan membersamai pembaca, maka koran harus mampu menjaga trust yang diberikan publik dengan menyajikan berita-berita berkualitas dan edukatif.
Jika dua kata kunci ini mampu dilakukan oleh media cetak, maka Insya Allah media cetak akan terus menjadi bagian dari pilar demokrasi bangsa ini.
Namun demikian, bukan berarti media cetak bertahan utuh dengan cara-cara konvensional. Kami memahami betul bahwa disrupsi teknologi informasi dan komunikasi mengharuskan perusahaan media terus berinovasi dan beradaptasi dalam lingkaran digitalisasi.
Karena itu, Jawa Pos dan grup Jawa Pos seperti Radar Tuban juga turut melakukan konvergensi media.
Yakni, mengintegrasikan pemberitaan dengan platform digital. Sehingga, produk jurnalistik yang dihasilkan bisa mengalir lancar dan menjangkau semua lapisan pembaca.
Selain itu, koran Jawa Pos juga bertransformasi secara digital dengan menyediakan e-paper atau surat kabar dalam format elektronik yang dapat diakses dengan berlangganan.
Wakbakdu, tidak ada kata yang patut kami ucapkan selain rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada pembaca setia Jawa Pos Radar Tuban yang telah memberikan kepercayaan kepada kami. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama