RADARTUBAN - Di tengah riuh rendah dunia sepak bola nasional, kabar baik akhirnya datang dari ujung utara Jawa Timur.
Persatu Tuban, klub kebanggaan masyarakat Tuban, akhirnya menemukan titik terang setelah melewati masa-masa penuh ketidakpastian.
Kamis sore, 2 Oktober 2025, menjadi momen bersejarah ketika proses peralihan saham PT. Persatu Putra Tuban resmi dilakukan.
Dari tangan Bapak Fahmi Fikroni, tongkat estafet kepemilikan kini berpindah ke Bapak Eko Wahyudi, sosok yang digadang-gadang mampu membawa angin segar bagi klub ini.
Yang membuat proses ini terasa lebih hangat adalah kehadiran para suporter setia: Ronggomania dan Tuban Sud Legione.
Mereka tak hanya hadir sebagai saksi, tapi juga sebagai penjaga semangat dan harapan. Asosiasi Suporter Persatu pun turut menyaksikan langsung jalannya perjanjian.
Ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan bentuk nyata dari cinta dan kepedulian terhadap klub yang telah menjadi bagian dari identitas kota.
Dalam isi perjanjian, pihak pertama menyerahkan seluruh saham dan dokumen kepada pihak kedua.
Tak ada embel-embel rumit, hanya satu tujuan: keberlangsungan dan kemajuan Persatu.
Bapak Eko Wahyudi pun menyatakan komitmennya untuk membangkitkan Persatu, bukan hanya dari sisi manajemen, tapi juga dari sisi prestasi.
Ada satu klausul penting yang disepakati: jika dalam tiga tahun tak ada perubahan signifikan, maka kepemilikan akan dikembalikan.
Sebuah bentuk tanggung jawab yang patut diapresiasi.
Namun, lebih dari sekadar peralihan kepemilikan, momen ini adalah simbol bahwa harapan belum mati. Bahwa di tengah keterbatasan, masih ada orang-orang yang percaya bahwa Persatu bisa bangkit. Suporter pun tak tinggal diam.
Ronggomania, Tuban Sud Legione, dan seluruh pendukung siap mengawal perjalanan Persatu di Liga 4 musim ini.
Mereka ingin memastikan bahwa klub ini tidak hanya dijalankan sebagai bisnis, tapi sebagai perjuangan bersama.
Perlu ditekankan bahwa Persatu bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah cerita, semangat, dan harapan yang hidup di dada ribuan warga Tuban.
Dari tribun stadion hingga warung kopi, nama Persatu selalu jadi bahan obrolan.
Kini, dengan manajemen baru dan semangat yang diperbarui, harapan itu kembali menyala. Tentu jalan ke depan tak akan mudah.
Liga 4 bukan tempat yang ramah bagi tim yang sedang membangun ulang. Tapi dengan dukungan penuh dari suporter dan komitmen manajemen, tak ada yang mustahil.
Semoga langkah ini menjadi awal dari kebangkitan Persatu. Semoga janji-janji yang diucapkan bukan hanya jadi kata-kata, tapi benar-benar diwujudkan di lapangan.
Karena pada akhirnya, yang diinginkan suporter bukan sekadar kemenangan, tapi kebanggaan. Kebanggaan bahwa klub mereka berdiri tegak, berjuang, dan tak pernah menyerah.
Harapan memang tak pernah padam. Dan kini, Persatu Tuban kembali menyalakan nyala harapan itu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama