Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Surat Terbuka untuk Pak Prabowo: Sudah, Cukup, Hentikan Kebijakan yang Nirsubstansi, Pak…

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 7 Februari 2026 | 18:35 WIB
Ilustrasi Surat Terbuka untuk Pak Prabowo
Ilustrasi Surat Terbuka untuk Pak Prabowo

RADARTUBAN- Dear, Bapak Presiden Prabowo Subianto. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan.
Rahayu. Hidup Jokowi… Ups, maap keceplosan…

Perkenalkan, nama saya Ahmad Atho’illah, biasa disapa Ahok, jurnalis dan penulis tidak terkenal asal Kabupaten Tuban yang sering mengkritik kebijakan Bapak. Salah dua di antaranya, adalah program makan bergizi gratis (MBG) dan pembangunan koperasi desa/kelurahan merah putih (KDKMP).

Kalau ditanya alasannya apa? Cik gak panjang-panjang, Bapak perintah aja Mas Tedy untuk follow IG saya: atok_tbn, terus suruh cerita. Sebab, di surat terbuka ini saya lebih tertarik dengan program baru Bapak—sebuah terobosan yang sangat brilian, very-very good, out of the box, dan jenius: gentengisasi.

Disaat banyak orang pintar (meminjam diksi yang sering Pak Presiden tujukan kepada para pengkritik) mencibir kebijakan Bapak yang dinilai nirurgensi, dan terkesan simbolik semata, saya sebagai Kader Genteng akan membela ide asal jeplak Bapak—eh, maksudnya ide cemerlang Bapak.

Bagi saya, ide Bapak Presiden tentang gentengisasi ini sangat mevericks. Hanya orang-orang yang memiliki prinsip kuat, independen, dan kadang nggloyor—eh, maksud saya berpikir tenang, yang mampu memunculkan ide cemerlang tersebut.

Tapi menurut keyakinan saya, ide di luar nurul—eh, maksud saya logis dan realistis ini pasti ada sumbangsih pemikiran Mas Gibran. Sebab, hanya beliau satu-satunya wakil presiden Indonesia yang memiliki hobi tidak suka membaca—eh, maksudnya tidak mau menyombongkan diri suka baca. Dan hanya beliau juga satu-satu wapres yang kalau ditanya apa, jawabanya apa, sebab hanya pertanyaan-pertayaan berbobot yang beliau tanggapi.

Tanpa memiliki keceradasan di atas rata-rata, tidak banyak orang yang bisa seperti Mas Gibran. Bahkan, mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat pun ingin anak bungsunya melahirkan di Solo, agar kelak cucunya menjadi wakil presiden. Yes, Mas Gibran adalah inspirasi untuk semua orang tua Indonesia yang ingin anak-cucunya jadi wakil presiden.

Eh, kok malah bahas Mas Gibran, ngapunten Bapak Presiden, malah nambah-nambah beban pikiran jenengan saja.

Jadi gini, Bapak. Saya tahu, program gentengisasi yang jenengan maksud ini tujuannya baik—untuk mempercantik hunian dan meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia—dari semula atap seng yang panas, kusam, dan berkarat, diganti genteng tanah liat, sehingga lebih ASRI (aman, sehat, resik, indah) plus tahan lama, saya tahu itu, dan setuju.

Tapi masalahnya, mbokyao sebelum jeplak—eh, maksud saya sebelum mencanangkan kebijakan, itu dipikir dan dikaji dalam-dalam dulu. Biar yang asal jeplak itu Bahlil dan Pigai saja, jenengan jangan. Kenapa? Karena setiap yang Bapak ucapkan itu bakal menjadi kebijakan.

Coba bayangkan, kalau yang Bapak ucapkan itu program klosetisasi jongkok demi menjaga ketahanan otot paha generasi muda menuju Indonesia kuat berak lama—eh, maksud saya Emas 2045. Bubrah kan jadinya. Kloset duduk se-Indonesia wajib dibongkar, diganti kloset duduk. Dan karena semua yang Bapak ucapkan bakal ditafsirkan menjadi instruksi kebijakan oleh menteri-menteri Anda, maka ujung-ujungnya adalah anggaran. Aduh Pak… capek kami menanggung utang negara.

Gara-gara ucapakan Bapak, Pak Pur, menteri Anda yang gayanya ceplas-ceplos dan PeDe-nya gak ketulungan itu—eh, maksud saya Menteri Keuangan itu, sudah berpikir menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk merealisasikan ucapakan Bapak. Jadi repot kan, Pak. Sudahlah Pres—eh, maksud saya Pak Presiden, cukup asam sulfat—eh, salah lagi, maksud saya asam lambung ini naik gara-gara program MBG dan KDMP, jangan tambah-tambah dosis lagi nggih.

Seperti yang sering Bapak ucapkan, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Saya tahu bahwa Bapak Presiden adalah orang yang sangat kaku—eh, maksud saya memiliki independensi tinggi, sehingga tidak peduli dengan kritik dan masukan dari rakyat. Apalagi, rakyat yang tidak pintar seperti saya ini. Tapi saya masih memiliki satu harapan: semoga surat terbuka ini dibaca oleh Bu Titiek, lalu beliau tersentuh, dan setelah itu menasihati Bapak. Kapokmu kapan—eh, maksud saya semoga Tuhan mengabulkan.

Pak… tidak ada yang salah dengan program gentengisasi yang Bapak canangkan. Tapi masalahnya, apa segendeng ini—eh, maksud saya segenting ini negara mengurusi atap rumah warga. Toh jika dikalkuasi se-Indonesia, atap rumah warga yang menggunakan genteng dari tanah lebih banyak ketimbang yang menggunakan seng.

Di Provinsi Jogjakarta, misalnya, 94,56 persen rumah warga sudah menggunakan genteng dari tanah liat. Persentasenya tertinggi se-Indonesia. Lalu disusul Jawa Timur 91,56 persen, Jawa Tengah 86,35 persen, Jawa Barat 82,01 persen, Lampung 84,93 persen, Banten 78,05 persen, Bali 77,91 persen, Sumatera Selatan 52,89 persen, Nusa Tenggara Barat 48,81 persen, dan DKI Jakarta 38,01 persen.

Artinya, dari total provinsi se-Indonesia, lebih banyak yang menggunakan atap dari genteng ketimbang seng. Dan rata-rata yang menggunakan seng juga karena faktor geografis—bahan baku tanah liat yang tidak cocok dijadikan genteng, budaya, kearifan lokal, dan tentunya sesuai kebutuhan. Selain itu, rata-rata yang menggunakan atap seng juga bukan rumah hunian warga, melainkan gedung-gedung dan perkantoran.

Jika dengan alasan (yang mohon maaf), orang bodoh pun tahu bawah program gentengisasi sangat tidak penting, maka sudah semestinya Bapak Presiden tidak perlu lagi membahas sesuatu yang tidak substansi ini. Sudahlah Pak, hentikan ngomong hal-hal yang tidak penting.

Bapak Presiden yang menghormati saya—eh, maksudnya yang saya hormati, yang penting untuk segera diurusi dari bangsa ini bukan soal genteng dan perut. Bangsa ini butuh pemimpin dan pejabat yang bijaksana—yang fokus memikirkan nasib generasi mendatangkan, bukan keuntungan elit dan kelompok—yang mumpung ada kesempatan.

Pak… Bapak tahu kan berita tentang ananda YBR, bocah 10 tahun asal Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang ditemukan meninggal akibat bunuh diri, yang sebelumnya sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena, tapi permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang, Bapak tahu kan beritanya. Baca kan…? Bagaimana perasaan Bapak? Sedih yang mengharu biru, atau biasa saja. Jika yang terbesit di hati Bapak adalah perasaan yang biasa saja, merasa tidak bersalah sebagai seorang pemimpin, berarti Bapak tidak punya hati.

Pak, kemiskinan yang terjadi di Indonesia itu bukan karena rakyat Bapak malas, tapi karena sistem, Pak. Saya yakin, Bapak juga tahu bahwa kemiskinan di Indonesia bukan kemiskinan natural, melainkan kemiskinan struktural dari pemerintah akibat sistem yang curang dan politik yang kotor, sehingga masih banyak rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh keadaan.

Pak… ada yang tidak beres dengan kasus meninggalnya ananda YBR. Dari berita yang saya baca dari media terpercaya, keluarga ananda tidak pernah sekalipun menerima bantuan sosial dari pemerintah. Tahun gak Pak alasannya apa? Alasannya karena keluarga ananda bukan warga setempat. Sebegitu tegakah negara dengan rakyat sendiri. Hanya lantaran administratif, kemanusiaan dan nurani pun harus diabaikan. Sebrengsek inikah sistem birokrasi negara kita, Pak.

Dan sialnya, Pak, kadang ada pejabat yang dengan lambe tidak pernah disekolahkan, dengan etengnya berkata, “mestinya ngurus administrasi kependudukan, apa sih susahnya ngurus pindah domisili.” Ini adalah karakter model-model pejabat yang jadi ASN dengan modal dengkul, Pak.

Pak… fakta di negara Bapak, banyak rakyat miskin yang memang tidak patuh dengan administrasi, tapi bukan karena tidak sadar, Pak. Mereka seperti itu karena keadaan. Banyak keluarga miskin yang berpindah-pindah tempat tinggal karena harus bekerja serabutan, ikut saudara, atau sekadar mencari tempat tinggal yang bisa memberikan harapan.

Asal Bapak tahu, dan memang seharusnya Bapak harus tahu, mengurus administrasi kependudukan untuk sebagian orang di kota memang seperti mengganti profil WA. Hanya sebentar, apalagi punya orang dalam. Tapi bagi keluarga miskin rentang, yang apalagi lokasinya di pedalaman, mengurus adminitasi kependudukan berarti mengeluarkan ongkos, mengorbankan waktu kerja, dilempar dari loket satu ke loket lain, disuruh foto kopi karena berkas yang dibutuhkan masih kurang, dan masih banyak beban psikologi dan mental yang harus dihadapi, hingga risiko yang sejak awal dikhawatirkan itu akhirnya terjadi: lantaran syarat yang dibutuhkan belum lengkap, yang bersangkutan diminta untuk pulang, lalu kembali lagi esok hari dengan membawa semua syarat yang dibutuhkan.

Brengsek sekali kan, Pak… Memang tidak semua birokrasi pemerintah semenjengkelkan itu, tapi masih ada, Pak, dan banyak.

Kalau Bapak Presiden ingin membenahi bangsa ini, benahi layanan birokrasi terlebih dahulu, Pak. Didik para pejabat, ASN-ASN yang kurang empati itu dengan dedikasi melayani, bukan minta dilayani. Didik mereka untuk hadir di tengah kesusahan masyarakat. Didik mereka agar memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Didik mereka, Pak… Itu lebih penting daripada gentengisasi.

Setelah urusan birokrasi beres, tahap selanjutnya adalah pendidikan. Bapak jangan mudah percaya dengan laporan anak buah Bapak yang mengatakan pendidikan kita bagus. Pendidikan kita amburadul, Pak. Dan yang paling memprihatinkan adalah pengaruh negatif teknologi/media sosial terhadap generasi hari ini. Lantaran sudah kecanduan main game dan keseringan scroll media sosial, kini anak-anak yang mau membaca buku sangat minim. Dari persentase 100 anak, mungkin hanya satu yang masih memiliki kegemaran membaca.

Pak… ini ada data terbaru dari International IQ Test. Dari 195 negara di dunia, posisi Indonesia berada di peringkat 126 dengan rata-rata IQ 89,96. Selain kalah jauh dengan Vietnam yang menempati peringkat 10, Singapura peringkat 7, Australia peringkat 5, Iran peringkat 4, Jepang peringkat 3, serta Cina peringkat 2, dan Korea Selatan peringkat pertama, rata-rata IQ orang Indonesia juga jauh di bawah rata-rata IQ gelobal yang sekornya 100.

Itulah faktanya pendidikan kita, Pak. Separah itu generasi kita hari ini. Jika Bapak masih terus-terusan mengurusi sesuatu yang tidak substansi, sangat mungkin peringkat IQ Indonesia bakal terus merosot.

Pak… kami sayang Bapak bukan karena Bapak sebagai presiden, tapi karena Bapak adalah nakhoda negara ini. Jika Bapak salah arah dalam menakhodai negara sebesar ini, saya khawatir umur negara ini tidak sampai satu abad.

Sekian dan terima kasih, Pak. Semoga Bapak selalu sehat. Sebab, tahu sendiri kan jika Bapak sakit, apalagi… siapa yang bakal menggantikan Bapak? Sudah Pak, saya tidak sanggup untuk membayangkan.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Gentengisasi #pendidikan #kemiskinan #Mbg #presiden prabowo subianto #ketimpangan sosial