Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Membaca Tak Bikin Pintar Instan, Tapi Bisa Mengubah Cara Kita Menyikapi Dunia

M. Afiqul Adib • Kamis, 31 Juli 2025 | 14:10 WIB
Dengan membaca seseorang tahu bagaimana cara bersikap
Dengan membaca seseorang tahu bagaimana cara bersikap

RADARTUBAN- Di era yang dipenuhi video tutorial lima menit, Reels, TikTok, dan video pendek lainnya, membaca sering kali dipandang sebagai kegiatan kuno.

Tapi di tengah kebisingan digital yang memaksa kita untuk tahu segalanya dalam waktu singkat, membaca menawarkan sesuatu yang justru makin langka: ruang untuk merasa.

Ada satu kalimat yang belakangan ini mondar-mandir di beranda digital: “Baca buku nggak bikin kamu kelihatan pintar, tapi bikin kamu beda cara bersikap.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tapi diam-diam menohok. Karena selama ini kita dicekoki narasi bahwa membaca adalah tiket menuju kepintaran.

Padahal, membaca tidak selalu membuat seseorang jago debat atau hafal teori. Yang lebih sering terjadi justru hal-hal subtil: kita jadi lebih pelan dalam menilai, lebih sabar dalam menyimak, dan lebih peka dalam memahami perasaan orang lain.

Baca Juga: Rahasia Menyenangkan Mengajari Anak Membaca: Metode Kreatif yang Bikin Belajar Jadi Favorit Si Kecil!

Membaca Sebagai Latihan Empati

Terutama saat membaca fiksi, otak kita dilatih untuk menempuh jarak dari ego. Kita meminjam kacamata karakter lain—entah itu janda tua yang suka ngintip tetangga, anak SMA yang jenuh dengan hidup, atau alien yang bingung dengan perilaku manusia.

Otak kita—yang sering kali kaku karena terlalu sering diajak scroll—tiba-tiba punya “otot” baru.

Lebih elastis, lebih lentur dalam memahami. Kita jadi tidak gampang marah saat orang lain beda pendapat, dan lebih bisa melihat niat di balik tindakan.

Di Zaman yang Kekurangan Rasa

Sayangnya, di zaman sekarang banyak yang kehilangan empati. Informasi datang begitu cepat dan berulang, tapi ruang untuk mencerna makin sempit. Orang jadi reaktif, penghakiman jadi instan.

Baca judul langsung marah, lihat komentar langsung menyerang. Membaca bisa jadi antidot untuk itu semua—bukan karena membuat kita pintar, tapi karena membuat kita pelan.

Karena membaca bukan kompetisi. Tidak ada ranking pembaca tercepat atau piagam “paling sering baca caption panjang.”

Membaca adalah dialog sunyi antara kita dan teks. Di sana, kita bebas bingung, bebas tidak setuju, bebas merasa.

Maka Membacalah Saja

Membaca tidak menjanjikan prestise. Tidak otomatis bikin skripsi lancar atau jadi anak magang idaman bos.

Tapi membaca memberi kita modal untuk bersikap—untuk tidak kaget dengan kerumitan dunia, dan tidak cepat meremehkan pengalaman orang lain.

Jadi, kalau kamu masih sempat membaca di sela hiruk-pikuk sosial media, selamat. Bukan karena kamu lebih pintar, tapi karena kamu masih mau merasa. Dan di zaman yang kekurangan rasa, itu bukan hal kecil. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#memahami #reels #Konten instan #berempati #tiktok #cara bersikap #membaca #baca buku