RADARTUBAN - Perlu diakui bersama bahwa AI mulai menjadi teman belajar sehari-hari bagi banyak murid.
Dengan akses cepat dan jawaban instan, siswa merasa lebih mudah mencari penjelasan dari AI ketimbang menunggu kesempatan bertanya di kelas.
Mengapa siswa lebih nyaman bertanya ke AI? Salah satunya karena tidak ada rasa takut dihakimi. AI tidak menertawakan pertanyaan sederhana, tidak bosan, dan selalu siap menjawab kapan saja.
Keunggulan ChatGPT dibanding mesin pencari juga membuatnya lebih menarik. Alih-alih sekadar menampilkan daftar tautan, AI memberikan jawaban langsung, terstruktur, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Baca Juga: Steve Clarke Mundur dari Kursi Pelatih Skotlandia Usai Gagal di Piala Dunia 2026
Namun, ada hal yang tidak bisa digantikan oleh guru. Guru bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembimbing moral, motivator, dan fasilitator diskusi yang membentuk karakter siswa.
Risikonya, jika terlalu bergantung pada AI, siswa bisa kehilangan kemampuan kritis. Mereka mungkin menerima jawaban mentah tanpa memverifikasi, atau kurang berlatih berdiskusi dengan manusia.
Karena itu, penting melihat kolaborasi guru dan AI dalam pembelajaran. AI bisa menjadi alat bantu, sementara guru tetap memegang peran utama dalam membimbing, mengarahkan, dan memberi konteks yang lebih luas.
Akhirnya, fenomena ini membuka diskusi tentang masa depan pendidikan di era kecerdasan buatan.
Dunia pendidikan perlu menyesuaikan diri, bukan dengan menolak AI, tetapi dengan mengintegrasikannya secara bijak agar siswa mendapat manfaat maksimal tanpa kehilangan nilai-nilai penting dari interaksi manusia.
Murid yang lebih sering bertanya ke ChatGPT daripada kepada guru adalah tanda perubahan zaman. AI memberi kemudahan, tetapi guru tetap tak tergantikan dalam membentuk karakter dan kemampuan kritis.
Masa depan pendidikan akan lebih kuat jika keduanya berjalan beriringan: teknologi sebagai alat, guru sebagai jiwa pembelajaran. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama