RADARTUBAN - Munculnya kekhawatiran AI menggantikan guru adalah hal yang wajar. Ketika murid mulai terbiasa bertanya ke ChatGPT atau platform serupa, sebagian orang khawatir peran guru akan tergeser. Namun, kenyataannya, AI hanya bisa memberi jawaban, bukan membentuk karakter atau menanamkan nilai.
Peran guru yang tidak bisa digantikan mesin terletak pada sentuhan manusiawi: empati, motivasi, dan kemampuan membaca situasi kelas. Guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga pembimbing moral dan fasilitator diskusi.
Di sisi lain, AI sebagai alat bantu mengajar justru membuka peluang. Guru bisa memanfaatkan AI untuk membuat materi lebih interaktif, menyediakan penjelasan tambahan, atau membantu murid belajar mandiri.
Baca Juga: Robert Lewandowski Sepakat Gabung Chicago Fire, Era Baru Sang Mesin Gol Dimulai di MLS Amerika
Hal ini menuntut kompetensi baru yang perlu dimiliki guru. Bukan hanya menguasai materi, tetapi juga memahami teknologi, mengelola informasi digital, dan mengajarkan murid cara berpikir kritis terhadap jawaban AI.
Ada banyak contoh penggunaan AI di kelas. Misalnya, guru menggunakan AI untuk membuat soal latihan, memberikan simulasi interaktif, atau membantu murid memahami konsep sulit dengan penjelasan sederhana.
Namun, tetap ada tantangan etika penggunaan AI. Bagaimana memastikan murid tidak sekadar menyalin jawaban, bagaimana menjaga privasi data, dan bagaimana menyeimbangkan antara teknologi dan interaksi manusia.
Akhirnya, pendidikan masa depan membutuhkan guru yang adaptif. Guru yang mampu memanfaatkan AI akan tetap relevan, bahkan lebih kuat perannya. Sebaliknya, guru yang menolak beradaptasi bisa tertinggal di tengah arus perubahan.
AI tidak akan menggantikan guru, tetapi guru yang tidak memanfaatkan AI bisa kehilangan relevansi. Pendidikan masa depan bukan tentang memilih antara manusia atau mesin, melainkan tentang kolaborasi keduanya. Guru tetap menjadi jiwa pembelajaran, sementara AI hadir sebagai alat bantu yang memperkaya proses belajar.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni