RADARTUBAN - Bisa membaca belum tentu memahami. Bisa menghitung belum tentu mampu bernalar.
Hasil PISA 2025 kembali menyoroti persoalan kemampuan dasar siswa Indonesia yang masih jauh dari standar minimum internasional.
Dalam penilaian OECD terhadap siswa berusia sekitar 15 tahun, hanya 17 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika.
Artinya, sebagian besar siswa belum mencapai kemampuan minimum untuk memahami dan menggunakan konsep matematika sederhana dalam situasi nyata.
Kondisi serupa terlihat dalam literasi membaca. Hanya 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih.
Padahal, pada level tersebut siswa setidaknya diharapkan mampu menemukan gagasan utama dalam teks, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan.
Baca Juga: Keracunan MBG Makin Disorot, BGN Intip Rahasia Makan Gratis Jepang dan Model Central Kitchen
Di bidang sains, proporsinya sedikit lebih tinggi, yakni 37 persen siswa yang mencapai Level 2 atau lebih. Angka itu masih jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 74 persen.
Persoalan tersebut menjadi penting karena PISA tidak sekadar menguji kemampuan menghafal rumus atau teori.
Asesmen ini mengukur sejauh mana pengetahuan dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata, berpikir kritis, memahami informasi, dan memecahkan masalah.
Dalam video kanal YouTube Social Notes, kondisi tersebut digambarkan sebagai persoalan kemampuan dasar yang perlu menjadi perhatian serius.
“Kalau lu ketemu masalah sehari-hari, lu bisa enggak pakai logika matematika buat ngeberesin masalah tersebut? Lu bayangin 83% siswa Indonesia itu enggak bisa pakai logika matematikanya, Pak.”ujar narator Social Notes.
Data PISA 2025 mencatat skor rata-rata Indonesia sebesar 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca.
Dibandingkan 2022, skor sains naik 6 poin dan membaca naik 7 poin, sedangkan matematika turun 2 poin. Namun, OECD menyatakan perubahan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik.
Jarak dengan rata-rata OECD juga masih lebar. Rata-rata OECD berada di angka 482 untuk sains, 463 untuk matematika, dan 461 untuk membaca.
Baca Juga: Prabowo Gebrak Pendidikan Nasional: Sekolah hingga PTN Gratis Mulai Dibahas di Istana
Kesenjangan itu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti pada akses terhadap sekolah.
Kemampuan siswa dalam memahami informasi, menggunakan logika, membaca data, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan yang tidak kalah penting.
Social Notes menyoroti bahwa pembenahan pendidikan semestinya tidak hanya berkutat pada pembangunan fasilitas atau pergantian kurikulum. Kualitas pembelajaran dan kesejahteraan guru juga perlu mendapat perhatian.
“Pendidikan itu minimal bisa ngasilin generasi yang bisa baca dengan benar, bisa paham apa yang dia baca, bisa ngitung dengan baik dan pakai logikanya,” Tegas narator dalam video .
PISA bukan sekadar soal peringkat atau angka. Data tersebut menjadi gambaran tentang kemampuan dasar yang dimiliki generasi muda untuk menghadapi persoalan di luar ruang kelas.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni