RADARTUBAN - Hari pertama pelaksanaan simulasi Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang digelar Jawa Pos Radar Tuban dan Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, Senin (26/10) berlangsung lancar.
Simulasi merupakan tahap uji coba aplikasi yang Sabtu (24/10) diunggah di grup WhatsApp (WA) perwakilan sekolah untuk diinstal ke seluruh ponsel peserta.
Tahapan ini sangat penting agar pelaksanaan Olimpiade KKA pada Rabu (28/10) dan Kamis (29/10).
Pada simulasi hari pertama kemarin, hanya beberapa perwakilan sekolah yang menyampaikan kendala teknis ringan di grup WA. Setelah dipandu tim teknis yang juga bergabung di grup, permasalahan mereka berhasil diatasi.
Baca Juga: SMPN 4 Tuban Ikutkan 123 Siswanya pada Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial
Hanya sebagian kecil peserta yang belum berhasil login. Untuk mereka diberikan opsi mengikuti simulasi hari kedua.
Pada simulasi hari pertama kemarin, sejumlah sekolah memutuskan mengikuti simulasi hari kedua. Tiga di antaranya SMPN 1 Singgahan, SMPN 2 Rengel, dan SMPN 3 Jatirogo.
Sementara itu, dari unggahan foto di grup, sejumlah sekolah mengerjakan di luar kelas. Seperti SMPN 2 Montong di teras sekolah.
Salah satu pertimbangannya karena wifi dan data internet hanya bisa diakses di tempat tertentu. ‘’Santai di bawah pohon,’’ tulis Fakhrozi, perwakilah sekolah setempat.
Berbeda dengan sejumlah sekolah lain. Siswa SMPN 3 Semanding mengerjakan di ruang perpustakaan. Sementara SMPN 1 Palang, SMPN 2 Tambakboyo, SMPN 1 Kenduruan, SMPN 2 Bancar, SMPN 1 Rengel, SMPN 1 Bancar, SMPN 3 Plumpang, SMPN 1 Grabagan, dan SMP Pilar Nusantara.
Dwi Setiyawan, ketua panitia berharap simulasi hari kedua Selasa (27/10) hari ini berlangsung lancar. ‘’Kita juga berharap sejumlah problem teknis yang muncul pada simulasi hari pertama bisa diminimalisasi,’’ ujarnya.
Seperti diberitakan, pelaksanaan olimpiade berlangsung selama 90 menit dengan jumlah materi 40 soal. Rinciannya, 24 soal pilihan ganda dan 16 soal pilihan ganda kompleks.
Materi Olimpiade KKA mencakup empat kompetensi utama, yaitu literasi dan etika kecerdasan artifisial, berpikir komputasional, literasi digital, serta pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial.
Setiap kompetensi memiliki bobot penilaian berbeda sesuai cakupan materi yang diujikan.
Baca Juga: 173 Siswa SMPN 2 Montong Antusias Ikuti Kompetisi Koding dan AI Radar Tuban
Literasi dan etika kecerdasan artifisial mendapat bobot terbesar, yakni 35 persen. Pada aspek ini, peserta diharapkan memahami prinsip kerja kecerdasan artifisial, keunggulan dan keterbatasannya dibandingkan kemampuan manusia, serta etika penggunaan data pribadi.
Kompetensi tersebut juga mencakup kemampuan menganalisis bias dan kesalahan keluaran sistem kecerdasan artifisial, mengenali konten manipulatif seperti deepfake, serta menerapkan langkah perlindungan data pribadi saat menggunakan teknologi tersebut.
Adapun berpikir komputasional memiliki bobot 25 persen. Aspek ini menguji kemampuan peserta mengelola data, memecahkan masalah secara sistematis, dan menyusun algoritma dasar.
Peserta diharapkan mampu mengurutkan instruksi logis, menganalisis data sederhana, serta mengenali dan menyelesaikan pola masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dua kompetensi lainnya masing-masing berbobot 20 persen, yaitu literasi digital serta pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial. (ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban