RADARTUBAN - Penggunaan kata Sumatra dalam penulisan bahasa Indonesia sering menimbulkan pertanyaan, terutama karena masyarakat juga masih menemukan bentuk lain, yaitu Sumatera, dalam sejumlah nama lembaga atau instansi.
Dalam konteks kebahasaan modern, kata Sumatra menjadi bentuk baku yang direkomendasikan Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) karena selaras dengan kaidah ejaan Bahasa Indonesia.
Perbedaan fungsi antara keduanya inilah yang membuat topik ini penting untuk dipahami secara jelas.
Baca Juga: Viral di TikTok, Kata Galgah Ciptaan Bunga Reyza Kini Resmi Masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bentuk Baku Menurut Kaidah Bahasa Modern
Dalam pedoman ejaan terkini, Sumatra ditetapkan sebagai bentuk yang baku.
Pemakaiannya dianjurkan dalam berbagai konteks resmi seperti dokumen pemerintahan, penulisan akademik, hingga pemberitaan media massa.
Bentuk baku ini juga berlaku pada penyebutan wilayah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, atau Pulau Sumatra.
Baca Juga: Kamus Bahasa Gaul (Upadate Februari 2025)
Mengapa Bentuk Sumatera Masih Banyak Dijumpai?
Meski tidak lagi menjadi bentuk baku, Sumatera tetap muncul di berbagai nama resmi yang telah digunakan sejak lama.
Penggunaan bentuk ini tidak dianggap salah ketika mengacu pada nama lembaga, kantor, atau instansi yang memang telah menetapkan ejaan tersebut dari awal.
Contohnya dapat ditemukan pada nama seperti Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Selatan atau lembaga pendidikan yang memiliki cabang dengan nama yang masih menggunakan ejaan lama.
Dalam konteks nomenklatur resmi, penyebutan Sumatera merupakan bagian dari identitas institusi sehingga tidak dapat diganti begitu saja.
Bentuk Sumatera juga menjadi keyword pendukung dalam artikel ini karena sering muncul dalam pencarian daring terkait sejarah, budaya, maupun administrasi wilayah.
Dua Ejaan, Dua Fungsi Berbeda
Meski tampak mirip, Sumatra dan Sumatera memiliki fungsi yang tidak dapat dipertukarkan secara sembarangan.
Sumatra wajib digunakan dalam penulisan umum yang mengikuti standar bahasa baku, sementara Sumatera dipertahankan bila mengacu pada nama resmi yang melekat secara historis.
Pemisahan fungsi ini merupakan bagian dari upaya menjaga konsistensi bahasa sekaligus menghormati nilai historis sebuah penamaan.
Kedua bentuk itu tetap relevan digunakan sepanjang penempatannya sesuai konteks.
Karena itu, pemahaman mengenai perbedaan Sumatra dan Sumatera diperlukan agar penulisan tetap tepat, akurat, dan tidak menimbulkan kerancuan bagi publik.
Melihat perbedaan keduanya, kata Sumatra merupakan bentuk yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia dan menjadi keyword utama dalam artikel ini.
Sementara itu, Sumatera tidak lagi menjadi bentuk baku, tetapi tetap sah digunakan dalam nama lembaga atau instansi tertentu.
Penggunaan secara tepat mencerminkan kepatuhan pada pedoman jurnalistik, akurasi bahasa, serta profesionalisme dalam penyampaian informasi publik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni