RADARTUBAN – Jebloknya performa AS Roma di awal musim 2023/2024 membuat sang arsitek, Jose Mourinho ikut jadi sorotan.
Bahkan, kini mulai ada kekhawatiran kutukan musim ketiga bagi pelatih berkebangsaan Portugal itu muncul lagi.
Hingga pekan ke-6 Serie A Italia, AS Roma terpuruk di posisi ke-16 dengan lima poin, hanya terpaut dua poin dari penghuni zona degradasi.
Paulo Dybala dkk baru menang satu kali yakni saat membantai Empoli 7-0 pada pekan ke-4 Serie A, Senin (18/9) dini hari WIB. Sisanya, dua kali seri dan tiga kali kalah.
Kekalahan teranyar AS Roma terjadi saat melawat ke markas Genoa di Stadio Comunale Luigi Ferraris, Jumat (29/9) dini hari WIB.
Pada pertandingan pekan ke-6 itu, Genoa berhasil mempermalukan AS Roma dengan skor telak 4-1 (2-1).
Menurut catatan yang dilansir Opta, ini merupakan start terburuk AS Roma sejak 2010/2011.
Kala itu, Roma juga mencatatkan hasil serupa (1W, 2D, 3L) di enam pertandingan pertama.
Dana belanja yang terbatas dan cederanya beberapa pemain inti di awal musim ini memang menyulitkan kerja Jose Mourinho.
Rapuhnya lini belakang jadi salah satu faktor di balik jebloknya AS Roma.
Dalam enam laga awal, gawang Rui Patricio sudah kebobolan 11 gol. Itu yang terburuk ketiga di antara 20 tim di Serie A Italia.
Mourinho sebagai pelatih tentu mendapat sorotan tajam. Muncul kecemasan di antara fans Roma terkait penampilan timnya musim ini.
Pasalnya, Mourinho sudah memasuki musim ketiganya sebagai allenatore Roma dan biasanya pria asal Portugal itu cenderung bermasalah.
Di klub-klub sebelumnya, Mourinho tidak pernah bertahan lebih dari tiga musim.
Di periode pertamanya menangani Chelsea, pelatih berjuluk The Special One itu diberhentikan pada September 2007. Saat itu, prestasi The Blues jeblok.
Padahal, dua musim sebelumnya secara beruntun menjuarai Liga Inggris serta satu Piala FA dan satu Piala Liga Inggris.
Saat menukangi Real Madrid, Mourinho juga hanya bertahan tiga musim. Setelah meraih Copa del Rey dan LaLiga, musim ketiga Mourinho juga berakhir berantakan.
Saat kembali ke Chelsea pada 2013, Mourinho berhasil membawa tim tersebut juara Liga Inggris 2014/2015.
Tapi, di pertengahan musim 2015/2016 dia dipecat karena rentetan hasil buruk yang diraih Chelsea.
Mourinho kemudian melanjutkan petualangan di Manchester United. Di klub berjuluk Setan Merah itu, Mourinho sempat memberikan gelar Liga Europa dan Piala Liga Inggris.
Tapi, dia hanya bertahan 2,5 musim. Pada Desember 2018 dia dipecat karena MU terpuruk.
Setelah itu, pada November 2019 Mourinho direkrut Tottenham Hotspur. Tapi, lagi-lagi manajer kelahiran Setubal, Portugal itu harus kehilangan jabatannya di tengah jalan. Dia diberhentikan pada bulan April 2021 atau beberapa hari sebelum final Carabao Cup.
Praktis, hanya di FC Porto dan Inter Milan, Mourinho mengakhiri kariernya dengan manis setelah membawa dua klub itu menjuarai Liga Champions.
Usai membawa Roma memenangi Conference League di musim perdana dan jadi finalis Liga Europa musim lalu, Mourinho tentu harus segera mengangkat performa Serigala Ibukota jika tak ingin bernasib sama lagi.
So, menarik ditunggu apakah Mourinho bisa keluar dari tekanan atau justru kutukan musim ketiga (baca : pemecatan) itu bakal kembali dirasakannya.
‘’Ini juga merupakan yang terburuk dalam karier saya. Namun, saya juga berpikir ini adalah pertama kalinya Roma memainkan dua Final Eropa berturut-turut,’’ kata Mourinho kepada DAZN.
‘’Ini adalah skuad yang kami miliki dan dengan skuad ini kami harus keluar dari situasi ini. Tidak ada lagi jendela transfer, tidak ada yang bisa pergi atau datang, inilah grup yang kami miliki dengan kualitas dan permasalahannya,’’ tuturnya. (*)
Editor : Amin Fauzie