Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Para Wasit Senior Serie A Ini Kapok Pimpin Laga Napoli Lagi, Alasan Demi Keselamatan

Bihan Mokodompit • Jumat, 11 April 2025 | 00:03 WIB
Salah satu laga Napoli yang bikin banyak wasit senior di Serie A kapok.
Salah satu laga Napoli yang bikin banyak wasit senior di Serie A kapok.

RADARTUBAN - Wasit kawakan Serie A, Marco Guida, bersama rekannya Fabio Maresca, memutuskan untuk tidak lagi memimpin pertandingan yang melibatkan Napoli.

Keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan pribadi mereka, mengingat keduanya berdomisili di kawasan Napoli, Campania.

“Ketika saya membuat kesalahan, berjalan di jalan atau belanja ke supermarket tidak terasa aman,” ujar Guida seperti dikutip dari Radio CRC melalui Repubblica.

Beberapa waktu lalu, Asosiasi Wasit Italia (AIA) telah mencabut aturan pembatasan geografis yang sebelumnya melarang wasit memimpin laga tim dari daerah asal mereka.

Artinya, secara regulasi, wasit dari Campania seperti Guida dan Maresca kini bisa saja memimpin pertandingan Napoli.

Namun, keduanya memilih untuk tidak menggunakan kesempatan tersebut.

“Fabio Maresca dan saya sebenarnya bisa saja memimpin laga Napoli tanpa masalah, tapi kami memutuskan untuk tidak melakukannya karena sepak bola di sini dijalani dengan emosi yang berbeda dibanding kota lain seperti Milan,” jelas Guida.

Menurut Guida, keputusan itu murni berdasarkan pertimbangan pribadi, bukan tekanan dari pihak mana pun. 

“Kami hanya melakukan apa yang kami anggap paling tepat, bahkan ketika aturan batas wilayah sudah dicabut," tegas dia.

Guida yang telah memimpin lebih dari 200 laga di Serie A dan 11 pertandingan Liga Champions, menekankan bahwa keselamatan keluarga menjadi prioritas.

“Saya tinggal di provinsi Napoli, saya punya tiga anak, dan istri saya menjalankan usaha sendiri. Ini adalah keputusan pribadi. Saya harus mengantar anak ke sekolah setiap pagi dan saya ingin melakukannya dengan tenang,” ucapnya.

Dia menambahkan bahwa atmosfer sepak bola di wilayahnya sangat sarat emosi.

“Bayangkan saja jika saya membuat kesalahan seperti memberi penalti, dan setelah itu saya tak bisa keluar rumah selama dua hari hanya untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Itu membuat saya tidak nyaman,” imbuhnya.

Guida juga menyoroti bagaimana budaya sepak bola yang emosional turut memperparah tekanan terhadap wasit.

Baik di level tertinggi seperti Serie A maupun di akar rumput. Belakangan ini, sejumlah wasit muda di liga junior menjadi korban kekerasan dari orang tua pemain maupun suporter.

“Media memperlakukan wasit seolah-olah musuh yang pantas dihina, apa pun keputusannya. Saya tidak bisa menonton pertandingan usia muda tanpa mendengar orang tua menghina wasit,” kata Guida prihatin.

Sebagai seorang ayah, dia merasa khawatir terhadap masa depan profesi wasit.

“Kita sedang membicarakan anak-anak muda yang menjalani profesi ini karena cinta dan rasa hormat pada aturan, dengan harapan suatu hari bisa memimpin laga Serie A. Tapi, mereka malah dihina dari awal sampai akhir pertandingan,” lanjutnya.

Guida pun menegaskan kembali bahwa penunjukan wasit saat ini sepenuhnya ditentukan oleh Gianluca Rocchi berdasarkan kualitas terbaik untuk pertandingan penting, tanpa intervensi dari AIA.

“AIA telah memberi kami kebebasan untuk memimpin pertandingan mana pun. Saya ingin bersikap transparan. Tidak ada agenda tersembunyi,” tandasnya.

Dengan keputusan ini, Guida dan Maresca memberikan contoh bahwa menjaga keselamatan pribadi dan keluarga bisa menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan profesi, terlebih dalam dunia sepak bola yang penuh tekanan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Sepak Bola #italia #prioritas #wasit #pertandingan #keselamatan #serie A #Napoli