RADARTUBAN - Ada satu pertanyaan klasik yang sering muncul tiap kali klub besar kalah terus: Ini kenapa sih fans-nya tetep banyak? Gak bosen apa kalah mulu? Kenapa gak pindah tim aja gitu yang lebih jago?
Pertanyaan itu akhir-akhir paling sering dialamatkan ke fans Manchester United, apalagi belakangan ini performa mereka lagi... yaa, gitu deh.
Setiap kali Manchester United kalah—yang belakangan ini hampir selalu—pasti ada saja yang nyeletuk: Ini fans-nya kok masih banyak sih? Nggak bosan apa lihat timnya kalah terus? Kenapa nggak pindah dukung tim yang lebih bagus aja?
Pertanyaan itu masuk akal kalau sepak bola dianggap seperti memilih klub di gim FIFA. Tapi kenyataannya, dukung klub sepak bola itu bukan soal rasionalitas. Ini urusan perasaan. Ini masalah hati.
Kalau Bisa Ganti, Mungkin Sudah Ganti
Ada satu komentar netizen yang viral: Kalau bisa ganti tim, sebenarnya aku juga pengen dukung tim yang lebih kuat. Tapi ini soal perasaan. Meski sakit, kalau sudah sayang, ya tetap dijalani.
Kalimat sesederhana itu mewakili jutaan suporter di seluruh dunia. Mereka tahu klub kesayangannya lagi buruk performanya.
Mereka tahu, tiap nonton malah bikin stres. Tapi mereka tetap ada di situ. Tetap nonton, tetap ngikutin kabar, tetap beli jersey baru walau dompet tipis.
Kenapa? Karena, sekali lagi, ini soal rasa. Sekali jatuh cinta sama satu klub, susah banget buat berpaling.
Cinta Itu Tidak Masuk Akal
Dukung klub sepak bola itu mirip kayak jatuh cinta sama orang. Kadang kita tahu orang itu bukan yang terbaik, kadang menyakitkan, tapi kita tetap bertahan.
Bukan karena dia selalu membuat bahagia, tapi karena kita sudah kadung sayang. Damn.
Karena jika hanya soal tim mana yang selalu menang, semua orang pasti dukung Manchester City, Bayern Munchen, atau Real Madrid.
Tapi kenyataannya, klub-klub yang sedang terpuruk pun tetap punya basis pendukung yang besar dan setia.
Karena dukungan itu bukan hasil dari logika. Itu muncul dari momen pertama kali kagem dengan sepak bola.
Entah ketika nonton bola bareng ayah di malam minggu. Atau dari gol-gol indah yang kita lihat waktu kecil. Bahkan dari kenangan masa lalu yang nggak tergantikan.
Bercanda dan Sindir-Sindiran Itu Justru Tanda Cinta
Lucunya, meski performa tim mereka lagi ambyar, para suporter justru aktif bercanda, menyindir, dan kadang malah membuat lelucon soal klubnya sendiri.
Itu bukan berarti mereka nggak serius, tapi karena mereka nyaman dengan rasa sakit itu.
Sindiran dan banter itu semacam pelampiasan. Cara mereka bertahan. Fans yang udah nggak bisa bercanda lagi soal klubnya, biasanya itu tanda bahaya. Artinya udah hampir nyerah.
Jadi, Kenapa Gak Ganti Klub Aja?
Karena mendukung klub sepak bola itu bukan seperti ganti baju. Bukan sekadar pilihan, tapi identitas.
Kadang bahkan jadi warisan keluarga. Seorang ayah yang mendukung satu klub, besar kemungkinan akan menurunkan kecintaan itu ke anaknya. Dan proses itu berlanjut turun-temurun.
Pindah klub itu bisa, tapi rasa cintanya nggak akan pernah sama. Karena jadi suporter sejati itu bukan hanya hadir saat menang besar, tapi tetap ada ketika tim jatuh. Tetap percaya, tetap berharap, meskipun yang datang cuma kekalahan.
Begitu pula hidup: yang bikin kita bertahan bukan cuma hasil yang indah, tapi keberanian untuk tetap tinggal meski dunia sedang tak berpihak. (*)
Jadi kalau ditanya, kenapa gak pindah klub? Jawabannya: karena ini sudah jadi bagian dari hidup. Dan hati nggak semudah itu diganti. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama