RADARTUBAN – Di tengah gegap gempita era baru kuota pemain asing hingga 11 orang di Super League musim 2025/2026, PSM Makassar melontarkan harapan tajam: “Kami ingin Piala Indonesia kembali digelar!”
Pernyataan tersebut bukan sekadar nostalgia sang juara bertahan Piala Indonesia, melainkan seruan serius untuk menciptakan ruang bermain bagi talenta lokal yang terpinggirkan oleh derasnya gelombang asing.
“Kami harap penambahan pemain asing bisa membuka peluang hadirnya kompetisi baru selain Super League. Entah Piala Indonesia atau apapun namanya. Karena kalau hanya Super League, pemain lokal pasti makin terpinggirkan,” ujar Sulaiman Abdul Karim, Media Officer PSM Makassar.
Kuota Asing 11 Pemain, Tapi Pemain Lokal Dapat Apa?
PSM Makassar sendiri siap memanfaatkan penuh kuota 8 pemain asing dalam Daftar Susunan Pemain (DSP) yang diperbolehkan bermain sebagai starter.
Tapi, klub legendaris asal Sulawesi Selatan itu menyoroti minimnya ruang untuk pemain lokal, apalagi jika hanya mengandalkan satu kompetisi besar.
“Kalau kita maksimalkan 8 pemain asing, sisa slot untuk lokal cuma 3—dan satu wajib U-23. Itu sangat sempit,” tegas Sulaiman.
Inilah sebabnya PSM menilai diperlukan kompetisi alternatif seperti Piala Indonesia dengan aturan berbeda—misalnya pembatasan pemain asing—agar bakat lokal punya ruang unjuk gigi lebih luas.
Sebagai juara bertahan Piala Indonesia, PSM paham betul betapa pentingnya ajang ini.
Selain menjadi pelengkap prestise, turnamen ini pernah menjadi panggung eksplosif bagi pemain muda dan lapis kedua yang jarang tampil di liga utama.
Kini, dengan atmosfer baru sepak bola nasional yang dipenuhi pemain impor, suara dari Makassar jadi pengingat penting: regenerasi tidak boleh dikesampingkan. (*)
Editor : Amin Fauzie