RADARTUBAN — Ia disebut-sebut sebagai striker paling komplet yang pernah dimiliki Eropa.
Namun karier gemilang Marco van Basten justru berakhir tragis di usia emasnya, 28 tahun.
Sosok bek Prancis, Basile Boli, menjadi figur yang membekas dalam kisah kelam legenda AC Milan tersebut.
Di puncak kejayaannya bersama AC Milan, Marco van Basten—peraih 3 Ballon d’Or—menghadapi salah satu malam paling menentukan dalam karier sepak bolanya: Final Liga Champions 1993 kontra Olympique de Marseille.
Dalam laga itu, sebuah tekel dari belakang oleh Basile Boli menjadi momen kunci yang memperparah cedera pergelangan kaki kiri Van Basten yang sudah kronis sejak lama.
Meski tidak pernah secara eksplisit menyalahkan Boli, Van Basten mengakui bahwa laga final tersebut menjadi titik nadir dari cedera yang tak kunjung sembuh.
Sejak itu, ia tidak pernah lagi tampil di pertandingan resmi, meski masih terdaftar sebagai pemain Milan hingga 1995.
Cederanya bukan disebabkan satu insiden tunggal, melainkan hasil akumulasi dari tekel-tekel keras yang diterimanya selama karier.
Namun, tekel Boli di final Eropa itu disebut-sebut sebagai “pukulan terakhir” yang membuat sang maestro akhirnya menyerah.
Dampak tragis dari kasus Van Basten menggugah banyak pihak, termasuk FIFA, yang pada akhirnya memperketat regulasi terkait tekel dari belakang.
Sejak pertengahan 90-an, pelanggaran seperti itu langsung diganjar kartu merah, menandai era baru perlindungan pemain dari cedera parah.
Van Basten sempat mencoba comeback, namun rasa sakit tak kunjung hilang.
Bintang Timnas Belanda itu akhirnya resmi pensiun pada tahun 1995, tanpa pernah kembali bermain setelah malam kelam di Munich pada 1993.
Ironis, karier pemain yang digadang-gadang bisa lebih hebat dari Messi atau Ronaldo itu tamat di usia ketika sebagian besar pemain baru mencapai puncaknya. (*)
Fakta Menarik Van Basten
Terakhir kali bermain secara kompetitif pada 26 Mei 1993.
Mencetak total 282 gol dari 379 pertandingan sepanjang kariernya.
Di usia 23, sudah mengoleksi Ballon d’Or pertama, dan tiga kali juara Liga Belanda bersama Ajax.
Tiga gelar Serie A dan dua Liga Champions bersama Milan menambah kejayaannya sebelum cedera menghentikannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni