Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Legenda Hidup AC Milan, Dejan Savićević: Si Genius Montenegro yang Mengguncang San Siro, Bagaimana Kiprahnya?

Tulus Widodo • Kamis, 18 September 2025 | 01:28 WIB
Dejan Savićević dikenang sebagai Il Genio yang mengubah wajah AC Milan di awal 1990-an.
Dejan Savićević dikenang sebagai Il Genio yang mengubah wajah AC Milan di awal 1990-an.

RADARTUBAN – Nama Dejan Savićević mungkin tidak setenar Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi bagi generasi baru, tetapi bagi publik San Siro, ia adalah legenda yang pernah mengubah wajah sepak bola Eropa.

Dikutip dari wikipedia, mantan bintang asal Montenegro itu lahir pada 15 September 1966.

Savićević dikenal sebagai “Il Genio” – si Jenius – karena kemampuannya menciptakan sihir di lapangan.

Kini, Savićević bukan lagi pesepak bola, melainkan orang nomor satu di Asosiasi Sepak Bola Montenegro.

Karier Savićević adalah perjalanan panjang penuh drama dan prestasi.

Pemain kelahiran Titograd, Yugoslavia itu memulai debut profesional bersama Budućnost Titograd, lalu bersinar di Red Star Belgrade.

Bersama klub asal Serbia itu, Savićević meraih puncak kejayaan: menjuarai Piala Champions Eropa (kini Liga Champions) 1991.

Namun, puncak kariernya justru hadir saat berseragam AC Milan.

Bergelimang Trofi Bersama AC Milan

Di bawah asuhan Fabio Capello, Savićević menjadi bagian dari skuad “I Rossoneri” yang menakutkan di awal 1990-an.

Selama memperkuat AC Milan, Savićević tampil dalam 144 pertandingan dan mencetak 34 gol di semua kompetisi. Di Serie A saja, ia mencatat 97 penampilan dengan 20 gol.

Angka ini belum termasuk kontribusi krusialnya di kompetisi Eropa seperti Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Supercoppa Italiana, di mana Savićević kerap menjadi kreator serangan dengan assist dan visi bermain yang tajam.

Deretan gelar yang dipersembahkan untuk Milan juga tak main-main: tiga trofi Serie A (1992-93, 1993-94, 1995-96), dua Supercoppa Italiana (1993, 1994), satu Liga Champions (1993-94), dan Piala Super Eropa (1994).

Malam Bersejarah di Athena

Para tifosi Milan pasti tidak akan pernah melupakan malam bersejarah 18 Mei 1994 di Olympic Stadium, Athena. Saat itu, AC Milan membantai Barcelona 4-0 di final Liga Champions.

Salah satu gol tercipta dari aksi magis Savićević yang mengecoh kiper Carlos Busquets dengan chip indah – gol yang hingga kini dianggap salah satu yang terbaik dalam sejarah final Eropa.

Tak hanya di Eropa, Savićević juga mengantarkan Milan menjuarai Serie A dan Supercoppa Italiana.

Meski cedera kerap menghantuinya, ia selalu menjadi pembeda dalam laga-laga besar.

Kreativitas, visi bermain, dan umpan-umpan briliannya membuat lawan frustrasi.

Tidak berlebihan jika media Italia menjulukinya “Il Genio”, karena permainan Savićević memang seperti karya seni.

Fokus Membangun Sepak Bola Montenegro

Kini, setelah gantung sepatu, Savićević memilih jalur berbeda: membangun sepak bola Montenegro dari balik meja.

Sebagai presiden asosiasi sepak bola negaranya, Savićević fokus membenahi infrastruktur, pembinaan pemain muda, dan memastikan Montenegro tetap kompetitif di level internasional.

Savićević adalah contoh bagaimana seorang pemain tidak hanya dikenang karena gol-gol spektakuler, tetapi juga karena warisan yang ditinggalkan.

Di Milan, pria kelahiran 1966 itu dikenang sebagai arsitek kemenangan era emas. Di Montenegro, ia jadi simbol kebanggaan nasional.

Satu hal yang jelas: sepak bola Eropa, khususnya AC Milan, tidak akan pernah sama tanpa si Jenius dari Balkan ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Liga Champions #san siro #Dejan Savicevic #Lionel Messi #Cristiano Ronaldo #AC Milan #Il Genio