Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Aitana Bonmatí Ukir Sejarah, Jadi Pemain Pertama Raih Ballon d’Or Féminin Tiga Kali Beruntun

Bihan Mokodompit • Rabu, 24 September 2025 | 04:05 WIB
Aitana Bonmatí dengan 3 trofi Ballon d
Aitana Bonmatí dengan 3 trofi Ballon d

RADARTUBAN - Bintang Barcelona Femení, Aitana Bonmatí, kembali menorehkan prestasi luar biasa setelah resmi meraih Ballon d’Or Féminin untuk ketiga kalinya.

Gelar ini menjadikannya pemain pertama dalam sejarah yang mampu mengoleksi tiga trofi bergengsi tersebut secara beruntun.

Prestasi Gemilang Bonmatí Bersama Klub dan Negara

Sebelumnya, Bonmatí telah dua kali mengangkat Ballon d’Or Féminin berkat dominasi bersama Barcelona Femení dan Timnas Spanyol.

Musim ini, meski menghadapi tantangan berbeda, ia tetap menunjukkan kelasnya.

Barcelona memang masih mendominasi di kompetisi domestik dengan meraih tiga trofi, namun mereka juga mengalami dua kekalahan liga, angka yang setara dengan total kekalahan lima musim sebelumnya.

Kembalinya Alexia Putellas dari cedera ACL membuat Bonmatí harus menyesuaikan diri setelah dua musim menjadi pusat permainan tim.

Meski begitu, keduanya tetap produktif dengan catatan dua digit gol dan assist, sekaligus membawa Barcelona ke final Liga Champions untuk kelima kalinya.

Namun, langkah mereka terhenti setelah dikalahkan Arsenal dengan skor tipis 1–0 di Lisbon.

Kegagalan di Euro 2025 dan Ketangguhan Mental

Di level internasional, perjalanan Bonmatí bersama Timnas Spanyol di Euro 2025 juga penuh drama.

Ia gagal menuntaskan eksekusi penalti dalam adu tos-tosan melawan Inggris di final, yang membuat Spanyol harus puas sebagai runner-up.

“Saya masih shock. Kami sudah memberikan segalanya. Saya harus meminta maaf karena gagal mengeksekusi penalti, dan saya ucapkan selamat kepada Inggris,” kata Bonmatí usai laga.

Namun, keikutsertaannya di turnamen itu sudah menjadi pencapaian tersendiri.

Sebab, ia sempat menjalani perawatan meningitis virus di rumah sakit sebelum turnamen dimulai.

Dengan tekad kuat, Bonmatí bahkan mampu tampil sejak fase grup hingga akhirnya mencetak gol penentu kemenangan di semifinal melawan Jerman.

Aksi spektakulernya itu membuat UEFA menobatkannya sebagai Pemain Terbaik Turnamen.

Bukti Konsistensi Seorang Juara

Meski gagal meraih gelar internasional, penghargaan Ballon d’Or Féminin yang ketiga kalinya ini membuktikan konsistensi dan mental baja Bonmatí.

Di usia 27 tahun, ia bukan hanya simbol kekuatan Barcelona Femení, tetapi juga pilar penting Timnas Spanyol.

Sejarah pun kini mencatat namanya sejajar dengan legenda sepak bola dunia yang pernah mendominasi penghargaan ini. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Ballon d Or Feminin #Liga Champions #timnas spanyol #aitana bonmati #barcelona femeni