RADARTUBAN - Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kembali memberi “tamparan halus” untuk sepak bola Indonesia.
Kali ini bukan cuma PSSI yang kena getah, tetapi juga Persib Bandung.
Dalam sidang Komite Disiplin AFC yang digelar 2–3 Oktober 2025, badan sepak bola Asia itu resmi menjatuhkan dua sanksi berbeda kepada keduanya.
Pengumuman resminya dirilis lewat situs AFC pada Senin (6/10).
PSSI dijatuhi denda karena kesalahan administratif dalam penyelenggaraan Piala Presiden 2025.
Sementara Persib harus merogoh kocek akibat pelanggaran regulasi stadion dalam laga playoff AFC Champions League Two 2025–2026 melawan Manila Digger.
PSSI Kena karena Lalai Administrasi
Dalam putusan AFC, PSSI dinyatakan melanggar Prosedur Perizinan Pertandingan Internasional Tingkat 2 sebagaimana tertulis dalam Pasal 11 Regulasi AFC.
Intinya, federasi terlambat mengajukan izin penyelenggaraan turnamen Piala Presiden 2025 yang berlangsung 6–14 Juli lalu.
Yang membuatnya makin mencoreng reputasi, AFC menyebut bahwa pelanggaran ini bukan kali pertama terjadi.
“Ini merupakan pelanggaran ketiga yang dilakukan oleh pihak tergugat dalam periode pelanggaran terulang,” tulis AFC dalam surat keputusannya.
Sebagai konsekuensi, PSSI dijatuhi denda 1.250 dolar AS atau sekitar Rp 20 juta, yang wajib disetor maksimal 30 hari setelah keputusan diumumkan.
Bukan jumlah besar, tapi simbol kegagalan tata kelola administrasi yang seharusnya tidak lagi terjadi di level federasi nasional.
Persib Denda karena Kursi Stadion Tak Bernomor
Sementara itu, Persib Bandung mendapat sanksi yang terbilang unik tapi serius.
Dalam laga playoff melawan Manila Digger, AFC menemukan bahwa kursi penonton belum sepenuhnya diberi nomor dan tiket tidak sesuai ketentuan “seating regulation”.
Hal itu dianggap melanggar Pasal 39 Regulasi Stadion AFC, serta Pasal 37 Regulasi Kompetisi.
“Pihak tergugat gagal memastikan setiap baris kursi telah diberi identifikasi dan tiket diberi nomor sesuai ketentuan,” tulis AFC dalam dokumen resminya.
Akibat kelalaian tersebut, Persib didenda 2.000 dolar AS (sekitar Rp 33 juta)—gabungan dari dua pelanggaran berbeda.
Kesalahan yang seharusnya bisa dihindari dengan standar profesionalisme minimal penyelenggara laga internasional.
Masalah Klasik yang Tak Kunjung Selesai
Dua sanksi dalam satu pekan ini mencerminkan problem mendasar sepak bola Indonesia: administrasi yang longgar dan disiplin regulasi yang lemah.
Dari federasi sampai klub, kecerobohan teknis masih menjadi penyakit lama yang sulit sembuh.
Padahal, di tengah ambisi besar PSSI membawa Indonesia lebih sering tampil di level Asia, kesalahan elementer seperti izin terlambat dan kursi tak bernomor justru menunjukkan masih jauhnya jarak menuju profesionalisme sejati.
AFC jelas tidak melihat nominal denda, tetapi integritas tata kelola. Dan dalam kasus ini, baik PSSI maupun Persib—dua entitas besar sepak bola nasional—sama-sama dinilai lalai menjalankan standar minimum organisasi modern.
Denda mungkin kecil, tapi pesannya besar: AFC menuntut profesionalisme, bukan alasan.
Sepak bola Indonesia bisa maju hanya jika mulai serius pada hal-hal kecil yang sering diremehkan. (*)
Editor : Amin Fauzie