Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketika Nilai-Nilai Sir Alex Ferguson di Manchester United Mulai Luntur, Begini Kata David Moyes

Bihan Mokodompit • Rabu, 26 November 2025 | 18:15 WIB

Mantan pelatih Manchester United, David Moyes.
Mantan pelatih Manchester United, David Moyes.

RADARTUBAN - Pada beberapa tahun terakhir, perbincangan soal Nilai-Nilai Sir Alex Ferguson di Manchester United kembali mencuat, terutama setelah David Moyes menegaskan bahwa fondasi klub yang dulu sangat kuat kini dianggap tak lagi menjadi pegangan.

Dalam wawasan terbarunya, Moyes menyebut perubahan kultur ini sebagai salah satu alasan ia kesulitan ketika pertama kali menukangi klub tersebut.

Isu tentang Manchester United, kepemimpinan, hingga warisan Sir Alex Ferguson kembali menjadi sorotan publik.

Moyes Menilai Nilai Klub Tidak Lagi Dipertahankan

David Moyes, yang kini kembali bersiap menghadapi mantan klubnya bersama Everton, menggambarkan bahwa struktur klub yang ia temui lebih dari satu dekade lalu sudah jauh berbeda dari masa kejayaan sebelumnya.

Ia menuturkan dalam bahasa yang lugas bahwa budaya klub mengalami pergeseran besar.

Menurut Moyes, “Dulu Manchester United memiliki budaya yang kuat. Mereka menjaga pelatihnya, mengembangkan pemain akademi, dan memegang teguh nilai-nilai yang membuat klub itu istimewa.”

Ia menambahkan pula bahwa “Sir Alex membangun nilai yang membutuhkan waktu untuk berkembang. Klub itu selalu punya tradisi hebat dalam membina para pemain mudanya.”

Pernyataan tersebut menegaskan kembali bagaimana Nilai-Nilai Sir Alex Ferguson di Manchester United diyakini menjadi fondasi utama klub selama berpuluh tahun.

Baca Juga: Komentar Singkat Sir Alex Ferguson Soal Perebutan Gelar Liga Inggris Bikin Netizen Heboh

Minimnya Waktu dan Kompetisi yang Semakin Ketat

Moyes menyatakan bahwa waktu menjadi faktor besar yang hilang dari rezim setelah Sir Alex.

Ia menyebut bahwa tak ada manajer setelah Ferguson yang diberi masa kerja panjang, termasuk dirinya yang hanya bertahan tak sampai satu musim penuh.

Ia menjelaskan, “Saya sudah memperkirakan sejak awal bahwa perubahan besar tidak bisa dilakukan dengan cepat. Saya melihat butuh waktu lebih lama.”

Ia juga menegaskan bahwa, “Bukan hanya soal kekuatan United saat itu, tetapi juga kekuatan klub lain. Manchester City, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal terus berkembang dan menambah kualitas.”

Pernyataan ini memperkuat gambaran bahwa berbagai elemen kompetitif semakin menantang posisi Manchester United saat itu.

Skuad yang Menua dan Transisi Manajemen

Selain tekanan kompetisi, Moyes juga mewarisi skuad dengan banyak pemain senior.

Nama-nama seperti Rio Ferdinand, Nemanja Vidić, Patrice Evra, Michael Carrick, hingga Ryan Giggs berada di usia yang tak lagi muda. Situasi ini menambah lapisan tantangan tersendiri.

Saat bersamaan, manajemen klub juga berubah karena Chief Executive David Gill ikut meninggalkan jabatannya.

Rekrutmen pun berjalan tidak mulus, dengan Marouane Fellaini menjadi satu-satunya rekrutan mahal yang masuk.

Di sisi lain, rencana besar Sir Alex untuk membawa Cristiano Ronaldo pulang sudah disusun sebelum pensiun, termasuk upaya mendatangkan Gareth Bale, Cesc Fàbregas, dan Toni Kroos, namun semua upaya itu gagal terwujud.

Moyes Tetap Berpegang pada Keyakinannya

Dalam refleksi lanjutan, Moyes menegaskan, “Saya merasa selalu mendapat dukungan dari Sir Alex. Namun saya tidak diberi cukup waktu untuk membangun fondasi.”

Empat tahun berikutnya ia kembali berkata, “Seharusnya saya punya waktu lebih panjang. Yang dibutuhkan saat itu bukan revolusi, melainkan evolusi yang berjalan bertahap.”

Ucapan tersebut menangkap esensi pemikirannya bahwa Nilai-Nilai Sir Alex Ferguson di Manchester United seharusnya tetap menjadi landasan stabil klub, terutama dalam masa transisi besar.

 

Perjalanan David Moyes di Manchester United mungkin singkat, tetapi pandangannya kembali membuka diskusi mengenai warisan Sir Alex Ferguson yang dianggap tidak lagi menjadi pijakan utama klub.

Dalam konteks dunia sepak bola modern yang bergerak cepat, pertanyaan besarnya adalah: Apakah klub sebesar United masih mampu mempertahankan nilai-nilai lamanya, atau harus terus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sir alex ferguson #Liverpool #Manchester United #vertonghen #budaya #chelsea #arsenal #david moyes