RADARTUBAN - Sepak bola modern tak lagi sekadar soal gol, trofi, atau romantisme jersey. Di Eropa, uang kini berbicara paling lantang—dan daftar 25 pemain bergaji tertinggi di lima liga top musim 2025 menjadi buktinya.
Angka-angka ini bukan isapan jempol. Data yang dirilis GiveMeSport dan dibagikan ulang akun X GlobalStatsX menunjukkan siapa saja pemain yang benar-benar dianggap “aset mahal” oleh klubnya.
Erling Haaland berada di puncak. Striker Manchester City itu diganjar bayaran £ 525.000 per pekan.
Tak ada kejutan. Mesin gol asal Norwegia itu adalah proyek jangka panjang City, simbol dominasi, sekaligus jaminan produktivitas. Di level ini, Haaland bukan lagi sekadar striker—ia investasi.
Mbappé di Madrid, Kane di Munich
Kylian Mbappé menyusul ketat dengan £ 518.137 per pekan bersama Real Madrid.
Meski baru dua musim berseragam Los Blancos, status Mbappé langsung setara Galácticos generasi terdahulu. Madrid tak sekadar membeli pemain, mereka membeli ikon global.
Harry Kane berada di posisi ketiga dengan £ 414.509 per pekan di Bayern Munich. Ini menarik. Bundesliga dikenal lebih “hemat”, tetapi Kane adalah pengecualian. Bayern sadar, untuk tetap relevan di Eropa, mereka butuh striker kelas dunia—dan itu ada harganya.
Premier League, Liga dengan Dompet Paling Tebal
Mohamed Salah (£ 400.000) menegaskan posisi Liverpool masih berada di lingkar elite finansial.
Lalu menyusul Casemiro (£ 350.000), Virgil van Dijk (£ 350.000), Raheem Sterling (£ 325.000), Bruno Fernandes (£ 300.000), dan Bernardo Silva (£ 300.000).
Berikutnya, Kai Havertz (£ 280.000), Alexander Isak (£ 280.000), hingga Omar Marmoush (£ 295.000).
Dominasi Premier League tak terbantahkan. Bukan hanya kaya, tapi berani membayar mahal demi mempertahankan daya saing. Bahkan pemain yang performanya naik-turun tetap bertahan di papan atas gaji.
Di Inggris, nilai komersial sering berjalan seiring—bahkan kadang melampaui—konsistensi performa.
Real Madrid dan Filosofi Mahal yang Terkurasi
Selain Mbappé, Real Madrid menempatkan tiga nama lain di daftar ini: David Alaba (£ 373.058), Jude Bellingham (£ 345.369), dan Vinícius Júnior (£ 345.369).
Ini bukan belanja sembarangan. Madrid membayar mahal pemain yang menjadi tulang punggung proyek jangka panjang.
Bellingham dan Vinícius adalah wajah masa depan klub. Alaba adalah pengalaman dan fleksibilitas.
Madrid membuktikan, mereka tak perlu memborong banyak pemain bergaji tinggi—cukup yang benar-benar krusial.
Juventus dan Inter: Dua Wajah Italia
Italia hanya diwakili dua nama: Dušan Vlahović (£ 368.416) dari Juventus dan Lautaro Martínez (£ 276.395) dari Inter. Jaraknya mencolok.
Vlahović menjadi simbol perjudian finansial Juventus. Gaji tinggi, ekspektasi besar, dan tekanan tak pernah reda.
Sementara Lautaro, meski bergaji lebih “rendah”, justru konsisten sebagai pemimpin Inter.
Ini potret Serie A hari ini: lebih selektif, lebih berhitung, dan tak lagi berlomba dalam perang gaji.
Bayern Munich: Mahal tapi Terukur
Bayern mengirim empat wakil: Manuel Neuer (£ 348.188), Joshua Kimmich (£ 331.607), Jamal Musiala (£ 312.872), dan Serge Gnabry (£ 312.872).
Ini khas Bayern. Mahal, tapi jarang keliru. Musiala menjadi bukti klub Jerman itu berani membayar tinggi pemain muda jika dianggap fondasi masa depan.
Barcelona dan PSG: Dua Kutub Berbeda
Barcelona diwakili Robert Lewandowski (£ 345.369) dan Frenkie de Jong (£ 315.027). Gaji besar, tetapi dibayangi problem keuangan. Setiap angka di Barça selalu punya cerita di belakangnya.
PSG hanya satu nama: Ousmane Dembélé (£ 298.447). Tanpa Messi, Neymar, dan Mbappé, struktur gaji PSG berubah. Lebih ramping, lebih terkendali—meski tetap mahal.
Lebih dari Sekadar Angka
Daftar ini bukan cuma soal siapa paling kaya. Ini cermin arah sepak bola Eropa. Premier League unggul finansial, Real Madrid selektif, Bayern disiplin, Serie A berhitung, dan PSG berbenah.
Di balik angka-angka fantastis ini, satu hal jelas: gaji tinggi adalah janji. Janji performa, pengaruh, dan trofi. Dan di sepak bola, janji yang tak ditepati selalu berujung kritik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni